“Aku ingin punya Bapak yang tidak korupsi, Ibu yang tidak suka menonton sinetron, dan teman-teman yang suka membaca…”

Amel, Icha dan Opie, ikutan diskusi untuk Komunitas Untuk Indonesia. Kalau didengar suara kritis kita, rasanya sebagai remaja bahagia banget. (Foto Faiz)
Lalu orang bertepuk tangan, berdecak kagum setelah mendengar seorang perempuan remaja, Nilna R Isna namanya, mengucapkan kata-kata itu. Kita yang mendengarnya barangkali kagum. Atau berbisik ke hati sendiri: mungkinkah ramaja bisa berkata begitu? Berbahayakah?
Di Bagindo Aziz Chan, 8 Juni 2008, Komunits Untuk Indonesia mengadakan sebuah diskusi tentang Nasionalisme.Untuk Indonesia Aku ada, demikian motto komunitas ini. Para penanggap yang disebut Kak Pakar dihadirkan: Eka Vidya Putra, Isral, dan M. Taufik. Mereka seakan hendak “menggugat” rendahnya nasionalisme kaum remaja, kaum muda. Waktu yang tepat memang, karena diskusi itu sendiri ditujukan untuk, dan dihadiri oleh banyak orang muda. Orang muda/remaja yang sepertinya susah dapat tempat untuk bicara. Tapi di sini tidak. Mereka didengarkan.
***
Tentang remaja, Hasanuddin WS— dalam sebuah tulisan di Koran ini 7 oktober 2007 lalu—pernah mencemaskan hal yang sama. Sang Profesor mencemaskan generasi muda kita seperti yang ada dalam gambaran film Eifill I’m in Love. Remaja dengan kisah cinta yang cengeng, hidup dalam gemerlapan dan kemelimpahan harta-benda, dan segala kebutuhan materi yang tercukupi dengan mudah.
Saya pernah menonton film itu. Film itu memang berkisah tentang cinta dua remaja Indonesia di gemerlap kembang api tahun baru di jantung kota Paris, di bawah keangkuhan eifell mendongak tinggi ke langit –langit tempat di mana sebuah revolusi pernah meledak beberapa abad lalu.
Tapi kita akan sulit lupa, ada yang lebih berbahaya dari sekedar perubahan cara mandi dari yang dulunya hanya menggunakan sabun tombak dan kini digantikan sabun dan sampo dengan jenisnya yang beragam macam seperti yang disesalkan sang Guru Besar. Ada yang lebih mencemaskan dari sekedar kisah cinta-cintaan dua remaja dalam eifeel i’m in love, atau kesenangan mengoleksi boneka berbie dan memendam rasa cengeng yang kian mengancam diri si remaja.
Rentetan panjang kasus-demi-kasus korupsi tidak datang dari kaum muda. Plesiran para pejabat yang atas nama kunjungan ke luar negeri, naik haji dan umrah berulang-ulang kali, ikut training-trainingan dengan menghabiskan biaya jutaan untuk kemaslahatan diri sendiri, belanja para ibu anggota dewan, permintaan lektop dan tunjangan mobil dinas yang memberi dampak negetif ke kantong Negara. Budaya “ugal-ugalan” yang cenderung tak banyak disentuh ini malah yang lebih mengkhawatirkan kita ketimbang mempersoalkan sampo, film-film cinta-cintaan, dua remaja yang bergandengan tangan dengan penuh cinta, berbie-berbie-an, dsb.
Sebuah perseteruan tua-muda seakan muncul kembali. Juga tentang nasionalis atau tidaknya seseorang. Dan kita menyaksikan perseteruan itu di Bagindo Aziz Chan. Remaja yang disesalkan tak nasionalis itu mulai berpikir tentang nasionalisme. Kadang mereka menggugat balik. Dan… membuat kita tercengang.
Nasionalisme, dari diskusi tersebut, menurut mereka tidak mesti selalu lahir dari ujung bambu runcing yang keramat itu, tidak dari “keinginan-untuk-bersama” belaka. Mereka tidak lagi berada di zaman revolusi yang penuh pertempuran, berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, dan dengan medan tempur yang jelas. Mereka adalah generasi yang kini berjuang melawan musuh yang “tak ada”, musuh yang entah.
Di tengah kehidupan remaja yang seperti “antah-barantah”, generasi ambang yang diombang-ambing, mereka toh bisa berbicara tentang korupsi, menggugat sinetron-sinetron yang memualkan, mengajak generasinya sendiri untuk rajin membaca.
Di tengah tudingan rendahnya Nasionalisme kaum muda itulah, Komunitas untuk Indonesia membuka ruang untuk kaum muda membicarakan Indonesia—sebuah bangsa yang berubah setiap waktu. Komunitas untuk Indonesia sendiri merupakan wadah bagi kaum muda untuk mengawal dan mendiskusikan perubahan itu.
Aku ingin nyanyikan lagu//bagi kaum-kaum yang terbuang/ kehilangan semangat juang/ terlena dalam mimpi panjang/ di tengah hidup yang bimbang…/
Sebuah lagu miris berirama keroncong turut serta mengakhiri diskusi tersebut. Sebuah lagu yang memang pantas bagi kaum muda, bagi remaja. “Remaja, kaum muda, harus diperhitungkan,” setidaknya.
Fatris M. Faiz sedang akan menyelesaikan skripsi dan KKN di Fakultas Sastra, Universitas Andalas Padang.
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar


