Catatan Ria Febrina
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
(Indonesia Pusaka)
Semua yang hadir pun berdiri. Lalu mereka menyanyikan lagu ciptaan Ismail Marzuki: Indonesia Pusaka. Musik pengiring kelompok “Musik Untuk Indonesia” Padang. Mereka memainkan gitar dan harmonika. Personilnya Andi, Afid (vokalis dan gitaris) serta Mamad (biolis). Ruangan seminar STMIK Indonesia, Jl. Khatib Sulaiman, Minggu (27/7) kemarin ramai oleh suara remaja Indonesia, ketika memulai diskusi bersama “Komunitas Untuk Indonesia”, dengan Topik: Tayangan Televisi Indonesia Miskin Nilai Pendidikan.
Semangat cinta Indonesia yang dimiliki Komunitas Untuk Indonesia (KUI) yang menyemangati kegiatan untuk kedua kalinya dalam bentuk diskusi antarremaja Indonesia. Remaja Indonesia, mulai dari pelajar sekolah, mahasiswa serta mereka yang mencintai Indonesia, bersama berpikir positif dan cerdas untuk Indonesia. Moto KUI: Untuk Indonesia Aku Ada.
Dalam acara tersebut, sebagaimana disampaikan Ketua KUI, Yusrizal KW, bahwa komunitas ini adalah untuk menjadikan remaja atau kaum muda bagian penting dari perubahan, berkontribusi positif untuk Indonesia, dan dilarang menghujat Indonesia. Harus kritis dan cerdas menyampaikan pendapat, memberi gagasan perbaikan. Indonesia masa depan akan leboih baik kalau disiapkan oleh kaum muda, remaja atau ABG hari ini. Karena itu, dalam acara ini, remaja Indonesia mendiskusikan persoalan Indonesia, lalu berupaya mencarikan jalan keluar dengan ide-ide yang muncul dari remaja Indonesia itu sendiri.
Konsep mencintai Indonesia dengan mendiskusikannya, juga disampaikan oleh Eka Vidya Putra, Manajer Program KUI. Kata Eka, Indonesia membutuhkan orang muda, karena itu KUI membuka ruang untuk orang muda menjadi bagain penting Indonesia. Jangan remehkan remaja, mereka hareus didengar.
Mempersoalkan Tayangan Televisi
Indonesia punya fasilitas, Indonesia punya media hiburan, salah satunya adalah televisi. Kotak ajaib itu diciptakan oleh J.L. Baird dan C.F. Jenkins dari Negara Amerika pada tahun 1920. Temuan tersebut menawarkan konsep hiburan audio visual yang akhirnya mampu menarik perhatian penduduk, tak hanya Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Media elektonik ini menggabungkan sistem kerja mata dan telinga untuk menikmati isi siaran yang ada dalam layar kaca tersebut.
Penikmatnya bisa menikmati siaran lokal, nasional maupun dunia, baik itu berupa tontonan hiburan, tayangan pengetahuan (edukasi), dan informasi (berita). Didukung oleh sistem komunikasi tercanggih, orang-orang bisa berkeliling menikmati isi dunia hanya dengan menatap layar yang berukuran sekitar 14 inci.
Dobrakan ini mengangetkan semua orang pada awalnya. Televisi dianggap kebutuhan tersier yang harus dipenuhi oleh masyarakat kalangan atas, karena mampu memberikan kebutuhan mereka atas informasi-informasi penting dari penjuru dunia. Semua orang berbondong-bondong untuk memiliki televisi, menyediakannya di rumah-rumah, dan menikmati setiap tayangannya untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan, informasi penting dan pengetahuan alam.
-pelan, televisi dianggap sebagai salah satu dari beberapa media yang mampu menghibur penikmatnya, hanya dengan duduk santai di dalam rumah, mereka bisa melancong ke mana-mana. Televisi pun dikenal sebagai media hiburan in door. Rekreasi yang selama ini menjadi media hiburan untuk merefresh otak, perlahan mulai menyingkir dari agenda akhir pekan masyarakat. Orang-orang lebih memilih bersantai di rumah, ditemani televisi yang menghadirkan ratusan hiburan yang juga menarik. Bahkan rekreasi dianggap memboroskan biaya dan menghabiskan waktu, jika mereka hanya sekedar menghabiskan waktu berlibur di akhir peran. Peran televisi mulai menggantikan kebutuhan rekreasi masyarakat.
inilah yang kemudian menjadi persoalan Indonesia. Lambat-lambat fungsi televisi mulai membunuh waktu dan pikiran masyarakat Indonesia. Dengan tayangan-tayangan yang bersifat menghibur, tetapi lebih banyak tidak edukatif. Pelajar Indonesia pun menghabiskan waktu belajarnya, waktu bermainnya serta waktu bercengkrama dengan orang tua dengan menikmati hiburan di depan televisi, sepanjang hari, sepanjang waktu.
Dari penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006, yang dikutip dari P’Mails edisi 147, bahwasanya jumlah jam menonton pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game (masih hiburan yang menyangkut televisi). Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja dewasa ini. Diperkirakan dalam setahun saja, pelajar Indonesia menghabiskan waktunya dengan menonton televisi selama 1600 jam. Sungguh jumlah jam menonton yang menyedihkan, jika dibandingkan dengan jumlah jam belajar mereka si sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya berkisar 740 jam.
Wajar kiranya, sebuah situs pemerhati Indonesia lalu menggerakkan “Hari Tanpa TV 2008” yang jatuh pada tanggal 20 Juli kemarin. Slogan tersebut digalakkan oleh web http:/kidia.org/ untuk seluruh remaja Indonesia yang cerdas. Ia ingin membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia agar mari bersama-sama stop ketergantungan terhadap televisi.
Atas dasar itulah, komunitas untuk Indonesia membincangkan Indonesianya dari persoalan keseharian yang memang menjadi tanggung jawab remaja Indonesia, khususnya dimulai dari kota Padang, kota tercinta ini. Hampir lima puluh pelajar Indonesia hadir dalam diskusi untuk Indonesia, mereka cinta dan peduli terhadap perkembangan Indonesia.
Awas Candu TV
Diskusi ini bukan diskusi lepas biasa, tetapi pertemuan yang juga ada pakarnya, yang akan memberikan pertimbangan bagi remaja Indonesia untuk berpikir bersama menggagaskan Indonesia yang merdeka.
Kali ini, Bapak Sumartono, Wakil Ketua KPI Sumbar, hadir untuk menyampaikan pikirannya mengenai Indonesia yang kini digerogoti oleh kecanduan menonton televisi. Ia mengungkapkan, bahwa televisi membawa banyak dampak negatif terhadap pelajar Indonesia. Di antaranya: mereka menonton atas dasar ingin tahu, akhirnya beralih kepada rasa ingin mencoba, lalu muncullah kehidupan konsumtif yang menghegemoni masyarakat.
Trend shooping di plaza, pergaulan bebas di luar sekolah, bahkan aksi kekerasan dicobakan oleh banyak remaja Indonesia. Hal ini terjadi, karena sikap masyarakat Indonesia yang cenderung emosional. Televisi memberikan rangsangan dan penontonnya melakukan reaksi untuk bertindak seperti yang dicontohkan.
Lalu apa yang diucapkan oleh Abel Tasman, pengamat sosial dan film, sesungguhnya, masyarakat Indonesia, khususnya pelajar Indonesia mengalami kematian akal dan budi. Televisi menjadi Tuhan yang menghancurkan fungsi keluarga sebagai peran utama dalam mendidik anak dan dalam mengenal dunia dari usia dini. Ia menyimpulkan Indonesia telah dibesarkan oleh media yang tidak rasional.
Sikap Peduli dan Cinta dari Remaja Indonesia
Satu persatu terkuak keresahan yang cukup menggenaskan ini, peran media televisi telah melewati batas dalam mendominasi pikiran, sikap dan mental remaja hampir di seluruh Indonesia.
Kini saatnya remaja Indonesia sendiri, yang dalam komunitas untuk Indonesia adalah pacar Indonesia, memberikan ide dan solusi untuk jalan keluar bagi persoalan televisi yang menghancurkan jam belajar, jam istirahat, jam tidur, jam rekreasi, jam bercengkrama dalam keluarga dan terumata jam membaca mereka, hanya dengan tayangan sinetron, infotainment, mendadak menjadi artis, atau musik gaul yang tidak akan mengubah mereka menjadi apa-apa. Tidak akan membuat mereka cerdas seperti Einsten, berhati mulia seperti Nabi Muhammad, memiliki jiwa sosial setinggi bunda Theresia atau intelek seperti Soekarno-Hatta, pacar Indonesia terbaik pada masanya. Remaja Indonesia bersuara!
Memang, tak semua remaja Indonesia setuju bahwa televisi telah membuat otak mereka baku. Pasalnya, masih ada remaja Indonesia yang sibuk berkreatifitas, ujar Ade dari UNP. Masih ada pacar Indonesia yang peduli lingkungan dan sosial, kata Lily dari SMA Pembangunan Padang. Tetapi mereka juga pasrah bahwa masih banyak teman-teman Indonesia yang terdoktrin oleh media televisi. Sebabnya karena mereka lengah, terlalu asyik sendiri, tak ada pengawasan orang tua sehingga tugas wajib untuk bersekolah, untuk bergaul, berdiskusi dan membaca menjadi prioritas akhir.
Mahgriza Novita Sari dari psikologi UNP menegaskan, sudah saat orang tua peduli untuk mengatur jadwal menonton anak-anak di rumah. Sudah saatnya pemerintah mengatur jadwal siaran di seluruh televisi swasta, seperti jadwal siaran TVRI nasional dan televisi lokal. Sudah saatnya setiap program acara diberi pelabelan, sehingga remaja Indonesia hanya boleh menonton setiap siaran yang berlabel semua usia (SU) atau bimbingan orang tua (BO). Tak lupa, sudah saatnya pula pihak penyiaran mengkondisikan jadwal tayangnya untuk anak-anak dan remaja. Meski sekarang televisi lebih identik dengan perdagangan, tetapi diharapkan perdagangan cerdas. Pasti ada waktu-waktu tertentu untuk mereka mempromosikan produk kepada pelanggan dewasa. Tapi ada pula waktu-waktu tertentu yang juga harus disediakan bagi remaja Indonesia dalam memilih tontonan cerdas dan berpengetahuan.
gila lagi, sampai-sampai Nilna R. Isna yang gemas dengan program tayangan televisi Indonesia yang amburadul, mengultimatum para orang tua untuk menyingkirkan Televisi dari ruang sentral di rumah, seperti ruang keluarga atau ruang makan, karena dua tempat ini dianggap menjadi pusat yang tak hanya menghanyutkan kebiasaan menonton pelajar, tetapi juga mendominasi anggota keluarga lainnya untuk candu terhadap televisi. Sehingga keinginan untuk merubah kebiasaan menonton televisi menjadi minimal akan sulit tercapai.
“Jika perlu televisi ditaruh saja di gudang atau di kamar orang tua, jadi kami menjadi malas untuk menonton televisi,” celetuknya geli.
Pesan untuk Indonesia
Sebagai pacar Indonesia, remaja Indonesia yang tergabung dalam komunitas untuk Indonesia ini punya pesan kepada Indonesia. Mereka berharap, teman-teman Indonesia memotivasi dirinya untuk pilah dan pilih dalam menonton tayangan televisi yang berpengetahuan. Masih ada english for fun, debate in English, cerdas cermat, melancong ke negeri seberang, wisata kuliner, dan beragam tayangan lain yang menjanjikan pengetahuan.
Stop sinetron yang sering membuat kita cengeng, berburuk sangka kepada orang lain, berbuat anarkis, atau stop menonton tindakan rekosntruksi ulang sebuah peristiwa kriminal yang tanpa sadar juga mengajarkan remaja Indonesia bagaimana berbuat kriminal seperti mereka.
Pacar Indonesia (sebutan untuk penanggap atau anggota komunitas) tidak ingin merusak cinta teman-teman kepada Indonesia. Mari kita memperhatikan Indonesia dengan kasih dan cinta. Sudah saatnya kita menginginkan Indonesia sempurna, setidak-tidaknya dimulai dari diri sendiri. Seperti pesan Mutia Ulfah, mahasiswa IAIN. Katanya, ia ingin Indonesia melihat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, membaca yang baik-baik dan berbuat yang baik-baik. Jika tidak, ia masih pacar Indonesia yang mencintai Indonesia apa adanya. Tidak semua harus berontak jika kecewa terhadap kondisi Indonesia. Jangan ada yang mencela Indonesia lagi, jangan sampai ada yang berbuat anarkis, tetapi mari kita tutupi setiap kekurangan Indonesia dengan perubahan sedikit demi sedikit.
Tepukan pun membahana untuk pacar Indonesia, apalagi ketika remaja Indonesia menyanyikan lagu mars mereka yang berjudul Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik olek pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi.
Kekasih kalau kau tanya
Berapa dalam cintaku padamu
Aku akan jawab
Cintaku lebih dalam pada Indonesia
Dengan Indonesia kucintai kamu.
Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia UNAND
bergiat bersama Yayasan Citra Budaya Indonesia,
bersama sanggar Pelangi, Hijaumuda dan komunitas untuk Indonesia
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar




lam kenal