Oleh: S Metron M
Sudah dua minggu berlalu. Molin tahu, Riska telah menyelamatkannya. Riska muncul dan mau jadi “partner”-nya dalam merayakan hari tanpa nonton tv.
Sekarang mereka mau lanjut. Bukan menambah anggota. Molin beranggapan, makin banyak anggota, makin banyak masalah. Riska setuju. Mereka mau mengadakan sebuah acara untuk memberi pengetahuan pada teman-teman tentang positif dan negatif televisi.
Molin dan Riska sepakat hal ini tidak mudah. Apalagi Molin. Ketika pulang ke rumah dua minggu lalu dan memberitahu keluarganya, hampir semuanya menolak. Kecuali Ayah. Tanpa diduga Ayah rela melupakan balap GP yang menjadi tontonan favoritnya. “Demi anakku,”‘ bela Ayah.
Ibu yang tidak bisa melewatkan acara Chef Bara terang-terangan keberatan. “Enak acaranya,” ucap Ibu menirukan suara idolanya dalam sebuah iklan. Molin angkat tangan. Begitu juga dengan dua adiknya. One Stop Football dan kartun di pagi hari emoh mereka lewatkan. “Transfer makin memanas. No Way,” tegas Noki, adiknya yang baru kelas dua SMP tapi bercita-cita menjadi pemain profesional sepak bola pertama Indonesia yang main di Seri A Italia. Molin hanya bisa mengendikkan bahu. Ayah turun tangan mengambil jalan tengah. Selain acara favorit, tidak boleh sedetik pun tv menyala lagi. Semunya menyetujui. Sekali lagi muka Molin selamat.
Tantangan yang lebih berat sekarang membentang. Selama seminggu, keduanya kasak-kusuk mencari format yang pas untuk acara yang mereka adakan. Molin mengusulkan acara diskusi. Riska langsung menolak. “Khotbah di masjid saja mereka tak mendengarkan, apalagi untuk ini,” alasannya. Molin mengangguk cepat, menyembunyikan keluguannya. Bikin pamflet, leaflet, bergegas mereka coret dari daftar usulan. Tidak efektif. Molin ingat pamflet calon ketua OSIS tahun lalu malah dijadikan “tisu” untuk makan goreng pisang. Lagipula, dananya dari mana? Walau cuma sehelai kertas, tapi kalau untuk 1500 pelajar, juga merepotkan.
Setelah semua “yang mungkin” dalam daftra terhapus, keduan menghempaskan diri ke sandaran kursi. “Baiknya, kita urut lagi. Mungkin ada yang bisa dimix,” ujar Riska. Molin hanya memandang temannya. Pandangan itu bikin Riska ingat sesuatu. Meski baru berteman, Riska sudah bisa meraba kemana arah tatapan itu. “Oh, no. Jangan dengan pandangan itu,” nada suara Riska terdengar cemas. “Jangan tanggung-tanggung melakukan perubahan,” sambar Molin. Ia meremukkan daftar isi itu. Kemudian mengambil sehelai kertas lagi. Ia menulis besar-besar “BUAT TV SENDIRI”.
Gila! Kepucatan Riska bertambah. Meski tahu temennya sedikit senewen, tidak mungkin akan terpikir rencana itu. Bagaimana caranya? Dari mana dananya? Apa acaranya? Bagaimana menyiarkannya? Riska mengernyit. Pusing sendiri dengan pertantanyaan dalam kepalanya. “Tenang. Tenang. Kita selesaikan satu persatu dulu,” bujuk Molin seperti menyelami isi otak Riska. “Yang mesti kita lakukan pertama kali adalah meyakinkan kepala sekolah. Jika itu sukses, setengah persoalan lain akan mengikuti. Ok?” Riska melihat mata itu makin berbinar.
Wajah kepala sekolah nampak mengerut begitu 20 halaman proposal bikinan Molin dan Riska berada di tangannya. Di bawah meja, dua tangan nampak bertaut. Terlihat sekali, walau wajah kedua orang itu dibuat biasa, namun kilatan di matanya seperti orang berdoa meminta sesuatu, yang hanya mukjizat yang bisa mneyamainya.
“Kalian serius,” ujar Pak Kepsek memandang keduanya saling bergantian. Tanpa komando, dua kepala mengangguk cepat. “Kalian tahu, cukup banyak yang dipertaruhkan di sini.” Dua kepala itu mengangguk lagi. “Namun, seperti yang sudah bapak baca dalam pendahuluan, alangkah lebih baik kalau pelajar yang memproduksi acaranya sendiri. Mereka lebih tahu apa yang mereka mau. Selama ini, keinginan itu ditekan oleh program tv yang kita saksikan, Pak” ujar Molin berargumentasi. “Kalian yakin bisa mendatangkan orang-orang ini?” tanya Pak Kepala Sekolah lagi. Molin tahu, nama-nama yang dituliskannya ikut memberi daya tarik. Garin Nugroho, Hartanto, Marseli, semuanya hampir mustahil. “Saya tidak bisa janji seratus persen. Tapi, seluruh kontak mereka sudah saya dapatkan,” ujar Molin yakin. Riska bersusah payah menahan kepalanya melihat Molin dengan pandangan “apa?!”.
“Bapak akan rapatkan dengan komite dulu. meski bapak suka, tapi…, berdoa saja,” Pak Kepsek mengangguk. Molin dan Riska segera beranjak. Menjelang mendekati pintu, terdengar gumaman, tifos…tifos dari kepala sekolah. Molin dan Riska tersenyum kecil. Television for Student’s.
Di luar, Riska memegang tangan Molin. “Kau tak beritahu kontak bapak-bapak itu,” tuding Riska. “Memang belum,” ujar Molin santai. Riska merengut, “tapi akan kita dapatkan, kan?” Molin menatap yakin. Lalu, keduanya terus berjalan.
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar


