<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Komunitas Untuk Indonesia</title>
	<atom:link href="http://kuindonesia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kuindonesia.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Dec 2008 16:47:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kuindonesia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Komunitas Untuk Indonesia</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kuindonesia.wordpress.com/osd.xml" title="Komunitas Untuk Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kuindonesia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anti Korupsi Sampai Mati</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/11/22/anti-korupsi-sampai-mati/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/11/22/anti-korupsi-sampai-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 07:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Alunan lagu Indonesia Pusaka menggema di arena 4th Padang Book Fair, Gedung Bagindo Aziz Chan, membuka acara diskusi yang dimulai pukul 14:15 WIB itu. Lagu ciptaan Ismail Marzuki itu diiringi oleh pemusik Indonesia; gitar dan harmonika oleh Andi, Afid (vokalis dan gitaris) serta Mamad (biolis). Minggu (9/11) lalu, Komunitas Untuk Indonesia kembali mendiskusikan Indonesia dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=137&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_146" class="wp-caption alignright" style="width: 470px"><img class="size-full wp-image-146" title="p1011681" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/11/p1011681.jpg?w=460&#038;h=345" alt="Pacar Indonesia (sebutan untuk peserta diskusi,-red) menyanyikan Lagu 'Seperti Para Koruptor' SLANK" width="460" height="345" /><p class="wp-caption-text">Pacar Indonesia (sebutan untuk peserta diskusi,-red) menyanyikan Lagu &#39;Seperti Para Koruptor&#39; SLANK</p></div>
<p>Alunan lagu Indonesia Pusaka menggema di arena 4th Padang Book Fair, Gedung Bagindo Aziz Chan, membuka acara diskusi yang dimulai pukul 14:15 WIB itu. Lagu ciptaan Ismail Marzuki itu diiringi oleh pemusik Indonesia; gitar dan harmonika oleh Andi, Afid (vokalis dan gitaris) serta Mamad (biolis).  Minggu (9/11) lalu, Komunitas Untuk Indonesia kembali mendiskusikan Indonesia dengan tema “Anti Korupsi Sampai Mati”. Pengunjung Padang Book Fair yang sesak itu satu persatu bergabung dengan mereka yang sudah berdiskusi, kemudian ikut pula menyumbangkan ide dan pendapatnya tentang Indonesia tercinta. Remaja Indonesia, mulai dari pelajar, mahasiswa serta mereka yang mencintai Indonesia, bersama menguras otak berpikir tentang Indonesia-nya dengan persoalan-persoalan kehidupan yang pelik, yang sedang bertubi-tubi berusaha menghancurkan Indonesia akhir-akhir ini. Remaja Indonesia mendiskusikan masalah-masalah yang tengah terjadi Indonesia, lalu berupaya mencarikan solusi untuk kebaikan Indonesia.<span id="more-137"></span></p>
<p>Diskusi yang ketiga Komunitas untuk Indonesia ini menggelitik nasionalisme remaja Indonesia yang hadir ketika itu.  Mewabahnya tindak korupsi di Indonesia kini, membikin mereka ‘berapi-api’. Apalagi koruptor ada di mana-mana. Ketika ditanya tentang koruptor, tak sedikit acungan tangan yang sudah tak sabar menyampaikan pendapatnya. Dedi Antoni dari Universitas Andalas dengan tegas mengatakan bahwa koruptor lebih jahat daripada binatang. Koruptor itu adalah orang termiskin di dunia. Untuk itu, korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Ada pula Dewi dari STMIK Jayanusa. Ia mengajak semua orang untuk bertanya pada diri sendiri, apakah saya pernah melakukan tindak korupsi? Dedet Pratama Dinata, mahasiswa Universitas Andalas, juga tampak geram dengan tingkah koruptor di Indonesia, juga dengan tingkah masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia kini, seperti tutup mata tutup telinga dengan kondisi negaranya. Contohnya saja, mahasiswa lebih memikirkan  tugas kuliahnya dibanding masalah-masalah di Indonesia, seperti korupsi.  Parlen Deplomar, siswa MAN 1 Padang ikut berkomentar tentang koruptor. Koruptor itu, katanya, menindas hak-hak rakyat. Meluruskan persepsi kita tentang koruptor dan korupsi, Andrinov Chaniago, Kak Pakar kali ini membahas arti sesungguhnya. Korupsi adalah menggunakan hak orang banyak, termasuk menyalahgunakan kekuaasaan, jabatan, kesempatan, dan posisi untuk memperkaya diri sendiri. Korupsi itulah yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sedang ramai dibicarakan pun bisa diganti namanya menjadi Bantuan Langsung Tewas. Hak warga negara tidak dikelola dengan baik. Menurut dosen UI ini, Indonesia merupakan  tempat belajar korupsi terbaik karena hanya di Indonesia lah banyak bentuk kreativitas untuk melakukan korupsi.</p>
<p>Jika dikaji penyebab korupsi, lebih lanjut Kak Andrianov menjelaskan bahwa  niat, kesempatan, dan mentalitas saling mempengaruhi sehingga menyebabkan perilaku korupsi tersebut. Kalau ada niat, kesempatan (kekuasaan), didukung oleh mental koruptor, maka berhasil tindak korupsi tersebut. “Ada kemauan, ada jalan,” candanya.</p>
<p>Koruptor memang menjengkelkan, membuat geram dan sakit hati setiap orang yang merasa dirampas haknya. “Sebaiknya, koruptor itu diapakan, ya?” tanya  Kak Yusrizal KW. Pacar Indonesia punya beragam pendapat tentang hukuman yang setimpal untuk para koruptor. Brata, mahasiswa UNP, menanggapinya. Menurutnya, eksekusi adalah hukuman yang paling pas untuk koruptor. Hukuman eksekusi itu juga disetujui dua orang pacar Indonesia lainnya,  seperti Borry Fonanda dari SMA N 10 Padang dan Jasmin dari UNAND. Ulfi, mahasiswa UNP ini lebih menyarankan seragam khusus untuk para koruptor. Hal senada juga disampaikan Milda Oktavia dari UNP. Lily Devany, siswa SMA Pembangunan ini lebih menginginkan agar koruptor itu diasingkan dan diambil haknya. M. Windi, siswa PMT Hamka lebih menginginkan  koruptor itu dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Kak Lince, salah seorang staf pengajar  UNP angkat bicara. Menurutnya, sebaiknya Undang-Undang Anti Korupsi harus direvisi dan koruptor itu harus diberi efek jera.</p>
<p>Korupsi kian berlarut-larut. Entah sudah berapa jumlahnya uang negara yang dikorupsi, entah sudah berapa rakyat yang menjadi korban korupsi. Indonesia tampaknya butuh solusi untuk masalah yang tak kunjung berakhir ini.  Saatnya remaja Indonesia bicara, solusi terbaik untuk Indonesia-nya.</p>
<p>Nilna R. Isna, mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNAND ini memberikan solusi yang membuat orang terbahak-bahak, kemudian terdiam. Merenung. Pertama, peliharalah kucing di rumah Anda. Kedua, jika pergi ke pasar, belilah lem tikus dan baca petunjuknya. Ketiga, jangan pernah mau jadi makanan kucing. Begitu solusi Nilna. Lain pula solusi dari Maghriza Novita Syahti, mahasiswa Psikologi UNP ini menyarankan setiap orang mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya. Siapa saja, teman, orangtua, keluarga. Yang penting menyamakan tujuan kita untuk memberantas korupsi di Indonesia dan mencegah setiap orang bertindak korupsi.</p>
<p>Tak hanya remaja Indonesia yang punya solusi. Kak Pakar kita hari ini pun menawarkan solusi. Menurut Kak Andrinov Chaniago, hal  pertama yang harus dibenahi adalah system recruitment aparatur negara yang kini asal-asalan. Kemudian, mentalitas seluruh masyarakat Indonesia harus dibina agar tidak ada lagi mental koruptor.<br />
Indonesia butuh harapan untuk masa depannya. Harapan dari remaja, pacar Indonesia. Harapan itulah nanti yang akan menjadi penyemangat, membuat Indonesia bangkit dari keterpurukannya.</p>
<p>Fitria, mahasiswa UNP ini berharap seluruh masyarakat Indonesia menjadi rakyat yang berpendidikan, yang benar-benar mengerti dampak korupsi. Lain lagi Rizki yang juga dari UNP. Ia ingin setiap warga negara Indonesia merubah diri sendiri dulu. Kalau individunya sudah bagus, maka kesejahteraan masyarakat juga akan terjamin. Tak akan ada lagi korupsi.</p>
<p>Sebagai pacar Indonesia yang mencintai Indonesia-nya, mereka berharap Indonesia tak lagi dirundung masalah, tak lagi mendapat juara dalam hal korupsi di dunia, tak lagi menjadi sarang koruptor. Betapa inginnya teman-teman Indonesia menikmati kembali kejayaan negaranya, hal-hal baik dari Indonesia.</p>
<p>Acara ditutup diiringi lagu Seperti Para Koruptor dari Slank dan lagu Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik oleh pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi. <strong>(Maghriza Novita Syahti)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=137&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/11/22/anti-korupsi-sampai-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/11/p1011681.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">p1011681</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pacar Indonesia, Cintai Indonesia Apa Adanya</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/04/pacar-indonesia-cinta-indonesia-apa-adanya/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/04/pacar-indonesia-cinta-indonesia-apa-adanya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 10:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Gus RY Pacarku Indonesia Indonesia cinta kita Pacarku Indonesia Kita saling cinta Pada Indonesia (Pacar Indonesia) Demikian reff lagu yang diciptakan oleh Afid, Mamad, dan Andi, serta Yusrizal KW, sebagai penulis lirik, mengantarkan diskusi bulanan kedua yang diselenggarakan Komunitas untuk Indonesia, pada Minggu 27 Juli 2008, di STMIK Indonesia, Padang. Diskusi dengan tajuk “Siaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=111&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Gus RY</strong></p>
<p><em>Pacarku Indonesia<br />
Indonesia cinta kita<br />
Pacarku Indonesia<br />
Kita saling cinta<br />
Pada Indonesia</em></p>
<p><em>(Pacar Indonesia)</em></p>
<p>Demikian reff lagu yang diciptakan oleh Afid, Mamad, dan Andi, serta Yusrizal KW, sebagai penulis lirik, mengantarkan diskusi bulanan kedua yang diselenggarakan Komunitas untuk Indonesia, pada Minggu 27 Juli 2008, di STMIK Indonesia, Padang. Diskusi dengan tajuk “Siaran Televisi Miskin Nilai Pendidikan” ini diikuti oleh orang muda, usia sekolahan, dengan menghadirkan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah—KPID—Sumatra Barat, Sumartono, sebagai Kak Pakar—baca; Pembicara.</p>
<p>Diskusi diawali dengan berita-berita seputar dampak siaran televisi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dari berita-berita tersebut, peserta diajak berpikir tentang siaran-siaran televisi yang belakangan memang tidak mencerdaskan, disebabkan masyarakat Indonesia yang latah. Sehingga kondisi ini dimanfaatkan oleh pemilik siaran untuk menayangkan siaran-siaran yang pada dasarnya sama di tiap stasiun televisi, namun beda kemasan. Hal inilah yang sering ditanggapi dan mendapat teguran Komisi Penyiaran Indonesia dan KPID.<span id="more-111"></span></p>
<p>Berbicara soal Komisi Penyiaran Indonesia, seperti yang dijelaskan Sumartono, keberadaannya didasarkan pada UU nomor 32 tahun 2002, tentang Penyiaran, dengan semangat pengelolaan sistem penyiaran, yang merupakan ranah publik, harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan. Keanggotaannya terdiri dari sembilan orang KPI Pusat, dan tujuh orang KPI Daerah (setingkat propinsi). Dengan adanya komisi penyiaran ini, maka diharapkan siaran-siaran televisi di Indonesia, bisa menjadi media pembelajaran bagi masyarakat. Sesuai dengan salah satu misinya, mewujudkan program siaran yang sehat, cerdas, dan berkualitas, untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan bangsa, persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai dan budaya Indonesia.</p>
<p>Namun, di balik itu semua, legalitas KPI terkesan setengah hati dan hanya sebatas tukang semprit—istilah Sumartono—sementara mereka tidak punya kekuatan untuk menilang atau menindak pelaku siaran yang dinilai tidak berkualitas. Dengan hanya teguran, ini tidak akan membuat pemilik stasius televisi bergeming. Siaran televisi di Indonesia tetap membodohi. Selain itu, anggota KPI yang hanya sembilan orang ditambah tujuh orang di daerah, bertugas tiap hari mengawasi lebih dari enam ratusan siaran radio dan televisi, efektifkah?</p>
<p>Di sinilah, peran masyarakat, terutama anak sekolahan dan mahasiswa, sebagai media penyadaran terhadap keluarga dan masyarakat sekitarnya. Melihat, anak-anak sekolah sekarang yang disibukkan rutinitas sekolah dan kegiatan lain, ada kemungkinan mereka tidak punya banyak waktu untuk menonton televisi, namun mereka mengetahui dan cukup cerdas serta kritis dalam menilai dan menyikapi siaran-siaran televisi tersebut—ini terlihat dalam diskusi. Sementara, sebenarnya yang kerap menonton televisi—terutama siaran-siaran yang melanggar Standar Program Siaran KPI, antara lain melanggar norma kesopanan dan kesusilaan dengan banyak menampilkan kekerasan, menampilkan kata-kata kasar, merendahkan dan melecehkan orang lain, seperti sinetron, infotainment, tayangan kriminal dan kekerasan, dan seterusnya—kebanyakan ibu-ibu rumah tangga dan pembantu rumah tangga yang kesehariannya di rumah.</p>
<p>Nah, sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan dalam diskusi tersebut, yang mana semua persoalan diutarakan oleh yang muda, kemudian dikembalikan lagi kepada mereka untuk menyikapinya, maka dapat ditarik benang merah, bahwa sudah seyogyanya seluruh masyarakat menjadi pengawas terhadap tayangan televisi, tidak hanya sebagai penonton pasif, serta dibutuhkan kerja sama yang baik dengan KPI. Dalam hal ini, KPI sebagai lembaga yang legal memberi teguran memiliki layanan call center untuk menerima pengaduan masyarakat. KPID Sumbar membuka layanan dengan nomor kontak 081 266 06114 atau 081 374 476559.</p>
<p>Diskusi yang berjalan alot ini telah menghimpun berbagai pendapat kaum muda dalam melihat dan menanggapi persoalan siaran televisi di Indonesia. Bahkan, sebuah tanggapan ekstrim dilontarkan oleh salah seorang peserta, di mana jangan ada televisi di ruang keluarga, ruang makan atau tempat berkumpul keluarga lainnya, jika perlu letakkan televisi di gudang. Shut down your tv!!!</p>
<p>Komunitas untuk Indonesia</p>
<p>Ada yang menarik sebenarnya, dari yang selama ini selalu dipinggirkan dan tidak pernah menjadi perhatian. Mungkin, streotipe generasi pop yang fashionable selalu mengiringi lenggok anak-anak usia belasan di lantai mall. Namun, di sana juga hadir pemikiran yang cerdas dan kritis menyangkut persoalan-persoalan negara ini. Permasalahannya sekarang, mereka (baca; anak-anak sekolah menengah atau para remaja) tidak menemukan tempat untuk menuang dan mengurai pendapat tersebut.</p>
<p>Hingga pada Minggu, 8 Juni 2008, saat pameran buku atau Minangkabau Book Fair di gedung Bagindo Aziz Chan, mereka seolah menemukan tempat berbicara. Di sana mereka berkumpul dalam sebuah tenda—mungkin awalnya memang tenda, tapi tidak tertutup kemungkinan akan menjadi rumah—dengan mengusung nama Komunitas untuk Indonesia. Teriakan Untuk Indonesia Aku Ada menggema, diselingi lagu atau balada tentang Indonesia, yang kemudian menjadi style dalam diskusi-diskusi mereka selanjutnya, di samping pembagian buku kepada setiap penanya dan penanggap.</p>
<p>Pembicaraan pada sore itu menyangkut nasionalisme, dengan Kak Pakar M. Taufik, Israr Iskandar, dan Eka Vidya Putra—semuanya peneliti di berbagai lembaga penelitian. Barangkali ini hal yang jarang atau tidak pernah ada dalam diary mereka—para remaja. Memang, pembicaraan seputar nasionalisme ini tidak semenarik obrolan tentang penyanyi pendatang terbaru, Afgan. Atau Cinta Laura yang keren dengan beiceik, gak ada oujeik. Juga type ponsel terbaru, atau juga model dan merek baju terbaru. Tapi, mereka memiliki pemikiran yang menarik tentang nasionalisme dari kegandrungan terhadap obrolan-obrolan yang selalu terbaru tersebut.</p>
<p>Inilah yang menjadi titik tolak kelahiran komunitas yang juga diprakarsai oleh orang muda dari Yayasan Citra Budaya Indonesia dan Revolt Institute ini. Di mana, ketika remaja yang selalu tidak dianggap atau tidak dibawa serta dalam memandang persoalan negara ini, bisa berbicara dan kritis terhadap persoalan-persoalan disekitarnya, sesuai dengan alur pikiran mereka. Di sini setiap tanggapan dihargai. Barangkali, ini akan menjadi jawaban terhadap eksistensi kaum muda Indonesia di tengah hegemoni kaum tua, yang kondisinya seperti bahasa iklan sebuah merek rokok, “belum tua, belum boleh bicara”.</p>
<p>Komunitas ini nantinya akan menjadi media bagaimana yang muda, terutama anak-anak sekolah dan mahasiswa, bisa berbicara dan menanggapi persoalan-persoalan negara, seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, melalui diskusi bulanan yang akan diadakan di berbagai kota di Sumatra Barat. Bahkan, juga akan dibentuk semacam parlemen remaja, yang mengingatkan para anggota parlemen Indonesia akan janji-janji kampanye, serta tanggung jawabnya terhadap rakyat.</p>
<p>***<br />
Seperti itulah, Komunitas untuk Indonesia telah menghimpun harapan-harapan anak Indonesia terhadap bangsanya. Kita akan tercenung sejenak atau menarik nafas panjang, ketika anak Indonesia berharap, aku ingin punya bapak yang tidak korupsi, aku ingin punya ibu yang tidak menonton sinetron, aku ingin punya teman yang rajin membaca. Tidak ada hujatan terhadap Indonesia di sini, tidak juga caci maki terhadap kondisi negara yang semakin tak jelas ini. Apapun yang terjadi dengan bangsa ini, semuanya pacar Indonesia yang sangat cinta Indonesia. Laiknya harapan anak Indonesia yang lain, aku ingin mencintai Indonesia apa adanya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/111/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/111/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=111&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/04/pacar-indonesia-cinta-indonesia-apa-adanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Tayangan TV Tak Mendidik, &#8216;Pacar Indonesia&#8217; Berdiskusi</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/karena-tayangan-tv-tak-mendidik-%e2%80%9cpacar-indonesia%e2%80%9d-berdiskusi/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/karena-tayangan-tv-tak-mendidik-%e2%80%9cpacar-indonesia%e2%80%9d-berdiskusi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 11:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Ria Febrina Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala Tetap dipuja-puja bangsa (Indonesia Pusaka) Suasana diskusi Komunitas Untuk Indonesia dengan tema Tontotnan Televisi Miskin Nilai Pendidikan di gedung STMIK Indonesia, Padang. (Foto Yulisa Farma) Semua yang hadir pun berdiri. Lalu mereka menyanyikan lagu ciptaan Ismail Marzuki: Indonesia Pusaka. Musik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=97&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Catatan Ria Febrina</strong></p>
<p><em>Indonesia tanah air beta<br />
Pusaka abadi nan jaya<br />
Indonesia sejak dulu kala<br />
Tetap dipuja-puja bangsa</em></p>
<p><em>(Indonesia Pusaka)<br />
</em></p>
<div class="mceTemp" style="text-align:left;">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn7923.jpg"><img class="size-medium wp-image-95" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn7923.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Suasana diskusi Komunitas Untuk Indonesia dengan tema Tontotnan Televisi Miskin Nilai Pendidikan di gedung STMIK Indonesia, Padang. (Foto Yulisa Farma)" width="300" height="225" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Suasana diskusi Komunitas Untuk Indonesia dengan tema Tontotnan Televisi Miskin Nilai Pendidikan di gedung STMIK Indonesia, Padang. (Foto Yulisa Farma)</dd>
</dl>
</div>
<p>Semua yang hadir pun berdiri. Lalu mereka menyanyikan lagu ciptaan Ismail Marzuki: Indonesia Pusaka. Musik pengiring kelompok “Musik Untuk Indonesia” Padang. Mereka memainkan gitar dan harmonika. Personilnya Andi, Afid (vokalis dan gitaris) serta Mamad (biolis). Ruangan seminar STMIK Indonesia, Jl. Khatib Sulaiman, Minggu (27/7) kemarin ramai oleh suara remaja Indonesia, ketika memulai diskusi bersama “Komunitas Untuk Indonesia”, dengan Topik: Tayangan Televisi Indonesia Miskin Nilai Pendidikan.</p>
<p>Semangat cinta Indonesia yang dimiliki Komunitas Untuk Indonesia (KUI) yang menyemangati kegiatan untuk kedua kalinya dalam bentuk diskusi antarremaja Indonesia. Remaja Indonesia, mulai dari pelajar sekolah, mahasiswa serta mereka yang mencintai Indonesia, bersama berpikir positif dan cerdas untuk Indonesia. Moto KUI: Untuk Indonesia Aku Ada.<span id="more-97"></span></p>
<p>Dalam acara tersebut, sebagaimana disampaikan Ketua KUI, Yusrizal KW, bahwa komunitas ini adalah untuk menjadikan remaja atau kaum muda bagian penting dari perubahan, berkontribusi positif untuk Indonesia, dan dilarang menghujat Indonesia. Harus kritis dan cerdas menyampaikan pendapat, memberi gagasan perbaikan. Indonesia masa depan akan leboih baik kalau disiapkan oleh kaum muda, remaja atau ABG hari ini. Karena itu, dalam acara ini, remaja Indonesia mendiskusikan persoalan Indonesia, lalu berupaya mencarikan jalan keluar dengan ide-ide yang muncul dari remaja Indonesia itu sendiri.</p>
<p>Konsep mencintai Indonesia dengan mendiskusikannya, juga disampaikan oleh Eka Vidya Putra, Manajer Program KUI. Kata Eka, Indonesia membutuhkan orang muda, karena itu KUI membuka ruang untuk orang muda menjadi bagain penting Indonesia. Jangan remehkan remaja, mereka hareus didengar.</p>
<p>Mempersoalkan Tayangan Televisi</p>
<p>Indonesia punya fasilitas, Indonesia punya media hiburan, salah satunya adalah televisi. Kotak ajaib itu diciptakan oleh J.L. Baird dan C.F. Jenkins dari Negara Amerika pada tahun 1920. Temuan tersebut menawarkan konsep hiburan audio visual yang akhirnya mampu menarik perhatian penduduk, tak hanya Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Media elektonik ini menggabungkan sistem kerja mata dan telinga untuk menikmati isi siaran yang ada dalam layar kaca tersebut.<br />
Penikmatnya bisa menikmati siaran lokal, nasional maupun dunia, baik itu berupa tontonan hiburan, tayangan pengetahuan (edukasi), dan informasi (berita). Didukung oleh sistem komunikasi tercanggih, orang-orang bisa berkeliling menikmati isi dunia hanya dengan menatap layar yang berukuran sekitar 14 inci.</p>
<p>Dobrakan ini mengangetkan semua orang pada awalnya. Televisi dianggap kebutuhan tersier yang harus dipenuhi oleh masyarakat kalangan atas, karena mampu memberikan kebutuhan mereka atas informasi-informasi penting dari penjuru dunia. Semua orang berbondong-bondong untuk memiliki televisi, menyediakannya di rumah-rumah, dan menikmati setiap tayangannya untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan, informasi penting dan pengetahuan alam.</p>
<p>-pelan, televisi dianggap sebagai salah satu dari beberapa media yang mampu menghibur penikmatnya, hanya dengan duduk santai di dalam rumah, mereka bisa melancong ke mana-mana. Televisi pun dikenal sebagai media hiburan in door. Rekreasi yang selama ini menjadi media hiburan untuk merefresh otak, perlahan mulai menyingkir dari agenda akhir pekan masyarakat. Orang-orang lebih memilih bersantai di rumah, ditemani televisi yang menghadirkan ratusan hiburan yang juga menarik. Bahkan rekreasi dianggap memboroskan biaya dan menghabiskan waktu, jika mereka hanya sekedar menghabiskan waktu berlibur di akhir peran. Peran televisi mulai menggantikan kebutuhan rekreasi masyarakat.</p>
<p>inilah yang kemudian menjadi persoalan Indonesia. Lambat-lambat fungsi televisi mulai membunuh waktu dan pikiran masyarakat Indonesia. Dengan tayangan-tayangan yang bersifat menghibur, tetapi lebih banyak tidak edukatif. Pelajar Indonesia pun menghabiskan waktu belajarnya, waktu bermainnya serta waktu bercengkrama dengan orang tua dengan menikmati hiburan di depan televisi, sepanjang hari, sepanjang waktu.</p>
<p>Dari penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006, yang dikutip dari P’Mails edisi 147, bahwasanya jumlah jam menonton pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game (masih hiburan yang menyangkut televisi). Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja dewasa ini. Diperkirakan dalam setahun saja, pelajar Indonesia menghabiskan waktunya dengan menonton televisi selama 1600 jam. Sungguh jumlah jam menonton yang menyedihkan, jika dibandingkan dengan jumlah jam belajar mereka si sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya berkisar 740 jam.</p>
<p>Wajar kiranya, sebuah situs pemerhati Indonesia lalu menggerakkan “Hari Tanpa TV 2008” yang jatuh pada tanggal 20 Juli kemarin. Slogan tersebut digalakkan oleh web http:/kidia.org/ untuk seluruh remaja Indonesia yang cerdas. Ia ingin membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia agar mari bersama-sama stop ketergantungan terhadap televisi.</p>
<p>Atas dasar itulah, komunitas untuk Indonesia membincangkan Indonesianya dari persoalan keseharian yang memang menjadi tanggung jawab remaja Indonesia, khususnya dimulai dari kota Padang, kota tercinta ini. Hampir lima puluh pelajar Indonesia hadir dalam diskusi untuk Indonesia, mereka cinta dan peduli terhadap perkembangan Indonesia.</p>
<p>Awas Candu TV</p>
<p>Diskusi ini bukan diskusi lepas biasa, tetapi pertemuan yang juga ada pakarnya, yang akan memberikan pertimbangan bagi remaja Indonesia untuk berpikir bersama menggagaskan Indonesia yang merdeka.<br />
Kali ini, Bapak Sumartono, Wakil Ketua KPI Sumbar, hadir untuk menyampaikan pikirannya mengenai Indonesia yang kini digerogoti oleh kecanduan menonton televisi. Ia mengungkapkan, bahwa televisi membawa banyak dampak negatif terhadap pelajar Indonesia. Di antaranya: mereka menonton atas dasar ingin tahu, akhirnya beralih kepada rasa ingin mencoba, lalu muncullah kehidupan konsumtif yang menghegemoni masyarakat.</p>
<p>Trend shooping di plaza, pergaulan bebas di luar sekolah, bahkan aksi kekerasan dicobakan oleh banyak remaja Indonesia. Hal ini terjadi, karena sikap masyarakat Indonesia yang cenderung emosional. Televisi memberikan rangsangan dan penontonnya melakukan reaksi untuk bertindak seperti yang dicontohkan.</p>
<p>Lalu apa yang diucapkan oleh Abel Tasman, pengamat sosial dan film, sesungguhnya, masyarakat Indonesia, khususnya pelajar Indonesia mengalami kematian akal dan budi. Televisi menjadi Tuhan yang menghancurkan fungsi keluarga sebagai peran utama dalam mendidik anak dan dalam mengenal dunia dari usia dini. Ia menyimpulkan Indonesia telah dibesarkan oleh media yang tidak rasional.</p>
<p>Sikap Peduli dan Cinta dari Remaja Indonesia</p>
<p>Satu persatu terkuak keresahan yang cukup menggenaskan ini, peran media televisi telah melewati batas dalam mendominasi pikiran, sikap dan mental remaja hampir di seluruh Indonesia.<br />
Kini saatnya remaja Indonesia sendiri, yang dalam komunitas untuk Indonesia adalah pacar Indonesia, memberikan ide dan solusi untuk jalan keluar bagi persoalan televisi yang menghancurkan jam belajar, jam istirahat, jam tidur, jam rekreasi, jam bercengkrama dalam keluarga dan terumata jam membaca mereka, hanya dengan tayangan sinetron, infotainment, mendadak menjadi artis, atau musik gaul yang tidak akan mengubah mereka menjadi apa-apa. Tidak akan membuat mereka cerdas seperti Einsten, berhati mulia seperti Nabi Muhammad, memiliki jiwa sosial setinggi bunda Theresia atau intelek seperti Soekarno-Hatta, pacar Indonesia terbaik pada masanya. Remaja Indonesia bersuara!</p>
<p>Memang, tak semua remaja Indonesia setuju bahwa televisi telah membuat otak mereka baku. Pasalnya, masih ada remaja Indonesia yang sibuk berkreatifitas, ujar Ade dari UNP. Masih ada pacar Indonesia yang peduli lingkungan dan sosial, kata Lily dari SMA Pembangunan Padang. Tetapi mereka juga pasrah bahwa masih banyak teman-teman Indonesia yang terdoktrin oleh media televisi. Sebabnya karena mereka lengah, terlalu asyik sendiri, tak ada pengawasan orang tua sehingga tugas wajib untuk bersekolah, untuk bergaul, berdiskusi dan membaca menjadi prioritas akhir.</p>
<p>Mahgriza Novita Sari dari psikologi UNP menegaskan, sudah saat orang tua peduli untuk mengatur jadwal menonton anak-anak di rumah. Sudah saatnya pemerintah mengatur jadwal siaran di seluruh televisi swasta, seperti jadwal siaran TVRI nasional dan televisi lokal. Sudah saatnya setiap program acara diberi pelabelan, sehingga remaja Indonesia hanya boleh menonton setiap siaran yang berlabel semua usia (SU) atau bimbingan orang tua (BO). Tak lupa, sudah saatnya pula pihak penyiaran mengkondisikan jadwal tayangnya untuk anak-anak dan remaja. Meski sekarang televisi lebih identik dengan perdagangan, tetapi diharapkan perdagangan cerdas. Pasti ada waktu-waktu tertentu untuk mereka mempromosikan produk kepada pelanggan dewasa. Tapi ada pula waktu-waktu tertentu yang juga harus disediakan bagi remaja Indonesia dalam memilih tontonan cerdas dan berpengetahuan.</p>
<p>gila lagi, sampai-sampai Nilna R. Isna yang gemas dengan program tayangan televisi Indonesia yang amburadul, mengultimatum para orang tua untuk menyingkirkan Televisi dari ruang sentral di rumah, seperti ruang keluarga atau ruang makan, karena dua tempat ini dianggap menjadi pusat yang tak hanya menghanyutkan kebiasaan menonton pelajar, tetapi juga mendominasi anggota keluarga lainnya untuk candu terhadap televisi. Sehingga keinginan untuk merubah kebiasaan menonton televisi menjadi minimal akan sulit tercapai.</p>
<p>“Jika perlu televisi ditaruh saja di gudang atau di kamar orang tua, jadi kami menjadi malas untuk menonton televisi,” celetuknya geli.</p>
<p>Pesan untuk Indonesia</p>
<p>Sebagai pacar Indonesia, remaja Indonesia yang tergabung dalam komunitas untuk Indonesia ini punya pesan kepada Indonesia. Mereka berharap, teman-teman Indonesia memotivasi dirinya untuk pilah dan pilih dalam menonton tayangan televisi yang berpengetahuan. Masih ada english for fun, debate in English, cerdas cermat, melancong ke negeri seberang, wisata kuliner, dan beragam tayangan lain yang menjanjikan pengetahuan.</p>
<p>Stop sinetron yang sering membuat kita cengeng, berburuk sangka kepada orang lain, berbuat anarkis, atau stop menonton tindakan rekosntruksi ulang sebuah peristiwa kriminal yang tanpa sadar juga mengajarkan remaja Indonesia bagaimana berbuat kriminal seperti mereka.</p>
<p>Pacar Indonesia (sebutan untuk penanggap atau anggota komunitas) tidak ingin merusak cinta teman-teman kepada Indonesia. Mari kita memperhatikan Indonesia dengan kasih dan cinta. Sudah saatnya kita menginginkan Indonesia sempurna, setidak-tidaknya dimulai dari diri sendiri. Seperti pesan Mutia Ulfah, mahasiswa IAIN. Katanya, ia ingin Indonesia melihat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, membaca yang baik-baik dan berbuat yang baik-baik. Jika tidak, ia masih pacar Indonesia yang mencintai Indonesia apa adanya. Tidak semua harus berontak jika kecewa terhadap kondisi Indonesia. Jangan ada yang mencela Indonesia lagi, jangan sampai ada yang berbuat anarkis, tetapi mari kita tutupi setiap kekurangan Indonesia dengan perubahan sedikit demi sedikit.</p>
<p>Tepukan pun membahana untuk pacar Indonesia, apalagi ketika remaja Indonesia menyanyikan lagu mars mereka yang berjudul Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik olek pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi.<br />
Kekasih kalau kau tanya<br />
Berapa dalam cintaku padamu<br />
Aku akan jawab<br />
Cintaku lebih dalam pada Indonesia<br />
Dengan Indonesia kucintai kamu.</p>
<p>Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia UNAND<br />
bergiat bersama Yayasan Citra Budaya Indonesia,<br />
bersama sanggar Pelangi, Hijaumuda dan komunitas untuk Indonesia</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/97/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/97/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=97&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/karena-tayangan-tv-tak-mendidik-%e2%80%9cpacar-indonesia%e2%80%9d-berdiskusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn7923.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Suasana diskusi Komunitas Untuk Indonesia dengan tema Tontotnan Televisi Miskin Nilai Pendidikan di gedung STMIK Indonesia, Padang. (Foto Yulisa Farma)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tifos</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/tifos/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/tifos/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 10:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: S Metron M Sudah dua minggu berlalu. Molin tahu, Riska telah menyelamatkannya. Riska muncul dan mau jadi &#8220;partner&#8221;-nya dalam merayakan hari tanpa nonton tv. Sekarang mereka mau lanjut. Bukan menambah anggota. Molin beranggapan, makin banyak anggota, makin banyak masalah. Riska setuju. Mereka mau mengadakan sebuah acara untuk memberi pengetahuan pada teman-teman tentang positif dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=91&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: S Metron M</strong></p>
<p><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/tv2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-106" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/tv2.jpg?w=298&#038;h=298" alt="" width="298" height="298" /></a>Sudah dua minggu berlalu. Molin tahu, Riska telah menyelamatkannya. Riska muncul dan mau jadi &#8220;partner&#8221;-nya dalam merayakan hari tanpa nonton tv.</p>
<p>Sekarang mereka mau lanjut. Bukan menambah anggota. Molin beranggapan, makin banyak anggota, makin banyak masalah. Riska setuju. Mereka mau mengadakan sebuah acara untuk memberi pengetahuan pada teman-teman tentang positif dan negatif televisi.</p>
<p>Molin dan Riska sepakat hal ini tidak mudah. Apalagi Molin. Ketika pulang ke rumah dua minggu lalu dan memberitahu keluarganya, hampir semuanya menolak. Kecuali Ayah. Tanpa diduga Ayah rela melupakan balap GP yang menjadi tontonan favoritnya. &#8220;Demi anakku,&#8221;&#8216; bela Ayah.</p>
<p>Ibu yang tidak bisa melewatkan acara Chef Bara terang-terangan keberatan. &#8220;Enak acaranya,&#8221; ucap Ibu menirukan suara idolanya dalam sebuah iklan. Molin angkat tangan. Begitu juga dengan dua adiknya. One Stop Football dan kartun di pagi hari emoh mereka lewatkan. &#8220;Transfer makin memanas. No Way,&#8221; tegas Noki, adiknya yang baru kelas dua SMP tapi bercita-cita menjadi pemain profesional sepak bola pertama Indonesia yang main di Seri A Italia. Molin hanya bisa mengendikkan bahu. Ayah turun tangan mengambil jalan tengah. Selain acara favorit, tidak boleh sedetik pun tv menyala lagi. Semunya menyetujui. Sekali lagi muka Molin selamat.</p>
<p><span id="more-91"></span></p>
<p>Tantangan yang lebih berat sekarang membentang. Selama seminggu, keduanya kasak-kusuk mencari format yang pas untuk acara yang mereka adakan. Molin mengusulkan acara diskusi. Riska langsung menolak. &#8220;Khotbah di masjid saja mereka tak mendengarkan, apalagi untuk ini,&#8221; alasannya. Molin mengangguk cepat, menyembunyikan keluguannya. Bikin pamflet, leaflet, bergegas mereka coret dari daftar usulan. Tidak efektif. Molin ingat pamflet calon ketua OSIS tahun lalu malah dijadikan &#8220;tisu&#8221; untuk makan goreng pisang. Lagipula, dananya dari mana? Walau cuma sehelai kertas, tapi kalau untuk 1500 pelajar, juga merepotkan.</p>
<p>Setelah semua &#8220;yang mungkin&#8221; dalam daftra terhapus, keduan menghempaskan diri ke sandaran kursi. &#8220;Baiknya, kita urut lagi. Mungkin ada yang bisa dimix,&#8221; ujar Riska. Molin hanya memandang temannya. Pandangan itu bikin Riska ingat sesuatu. Meski baru berteman, Riska sudah bisa meraba kemana arah tatapan itu. &#8220;Oh, no. Jangan dengan pandangan itu,&#8221; nada suara Riska terdengar cemas. &#8220;Jangan tanggung-tanggung melakukan perubahan,&#8221; sambar Molin. Ia meremukkan daftar isi itu. Kemudian mengambil sehelai kertas lagi. Ia menulis besar-besar &#8220;BUAT TV SENDIRI&#8221;.</p>
<p>Gila! Kepucatan Riska bertambah. Meski tahu temennya sedikit senewen, tidak mungkin akan terpikir rencana itu. Bagaimana caranya? Dari mana dananya? Apa acaranya? Bagaimana menyiarkannya? Riska mengernyit. Pusing sendiri dengan pertantanyaan dalam kepalanya. &#8220;Tenang. Tenang. Kita selesaikan satu persatu dulu,&#8221; bujuk Molin seperti menyelami isi otak Riska. &#8220;Yang mesti kita lakukan pertama kali adalah meyakinkan kepala sekolah. Jika itu sukses, setengah persoalan lain akan mengikuti. Ok?&#8221; Riska melihat mata itu makin berbinar.</p>
<p>Wajah kepala sekolah nampak mengerut begitu 20 halaman proposal bikinan Molin dan Riska berada di tangannya. Di bawah meja, dua tangan nampak bertaut. Terlihat sekali, walau wajah kedua orang itu dibuat biasa, namun kilatan di matanya seperti orang berdoa meminta sesuatu, yang hanya mukjizat yang bisa mneyamainya.</p>
<p>&#8220;Kalian serius,&#8221; ujar Pak Kepsek memandang keduanya saling bergantian. Tanpa komando, dua kepala mengangguk cepat. &#8220;Kalian tahu, cukup banyak yang dipertaruhkan di sini.&#8221; Dua kepala itu mengangguk lagi. &#8220;Namun, seperti yang sudah bapak baca dalam pendahuluan, alangkah lebih baik kalau pelajar yang memproduksi acaranya sendiri. Mereka lebih tahu apa yang mereka mau. Selama ini, keinginan itu ditekan oleh program tv yang kita saksikan, Pak&#8221; ujar Molin berargumentasi. &#8220;Kalian yakin bisa mendatangkan orang-orang ini?&#8221; tanya Pak Kepala Sekolah lagi. Molin tahu, nama-nama yang dituliskannya ikut memberi daya tarik. Garin Nugroho, Hartanto, Marseli, semuanya hampir mustahil. &#8220;Saya tidak bisa janji seratus persen. Tapi, seluruh kontak mereka sudah saya dapatkan,&#8221; ujar Molin yakin. Riska bersusah payah menahan kepalanya melihat Molin dengan pandangan &#8220;apa?!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bapak akan rapatkan dengan komite dulu. meski bapak suka, tapi&#8230;, berdoa saja,&#8221; Pak Kepsek mengangguk. Molin dan Riska segera beranjak. Menjelang mendekati pintu, terdengar gumaman, tifos&#8230;tifos dari kepala sekolah. Molin dan Riska tersenyum kecil. Television for Student&#8217;s.</p>
<p>Di luar, Riska memegang tangan Molin. &#8220;Kau tak beritahu kontak bapak-bapak itu,&#8221; tuding Riska. &#8220;Memang belum,&#8221; ujar Molin santai. Riska merengut, &#8220;tapi akan kita dapatkan, kan?&#8221; Molin menatap yakin. Lalu, keduanya terus berjalan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=91&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/tifos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/tv2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Tontonan di Televisi Miskin Nilai Pendidikan</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/ketika-tontonan-di-televisi-miskin-nilai-pendidikan/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/ketika-tontonan-di-televisi-miskin-nilai-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 08:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/ketika-tontonan-di-televisi-miskin-nilai-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah mendiskusikan Nasionalisme pada pertemuan bulan lalu, Komunitas Untuk Indonesia mengadakan acara lagi di Aula STMIK Indonesia pada 27 Juli 2008. Diskusi ini dihadiri lebih dari 80 orang peserta. Sebagai moderator adalah Yusrizal KW dam Kak Pakar hari ini adalah Kak Eka Vidya Putra. Diskusi ini juga menghadirkan Sumartono Mulyodihardjo, seorang komunikator Indonesia juga Wakil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=68&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_84" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn8009.jpg"><img class="size-medium wp-image-84" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn8009.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Menunggu hadiah buku. Mereka para peserta aktif, sebagai &quot;Pacar Indonesia&quot;, merasa gembira karena dapat hadiah. Kak Eka, lagi ngitung bukunya di belakang. (Foto Yulisa Farma)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Menunggu hadiah buku. Mereka para peserta aktif, sebagai &quot;Pacar Indonesia&quot;, merasa gembira karena dapat hadiah. Kak Eka, lagi ngitung bukunya di belakang. (Foto Yulisa Farma)</p></div>
<p>Setelah mendiskusikan Nasionalisme pada pertemuan bulan lalu, Komunitas Untuk Indonesia mengadakan acara lagi di Aula STMIK Indonesia pada 27 Juli 2008. Diskusi ini dihadiri lebih dari 80 orang peserta. Sebagai moderator adalah Yusrizal KW dam Kak Pakar hari ini adalah Kak Eka Vidya Putra. Diskusi ini juga menghadirkan Sumartono Mulyodihardjo, seorang komunikator Indonesia juga Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sumbar.</p>
<p>Seperti biasa, lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul Indonesia Pusaka itu mengalun indah diiringi pemusik Indonesia yang memainkan gitar dan harmonika oleh Andi, Afid (vokalis dan gitaris) dan Mamad (biolis). Menambah kecintaan remaja Indonesia, baik pelajar maupun mahasiswa, kepada Indonesia tercinta.</p>
<p>Televisi menjadi pilihan. “Ketika Tontonan di Televisi Miskin Nilai Pendidikan” menjadi topik diskusi hari ini. Rasionalnya, kualitas tak lagi dipedulikan dalam tayangan televisi kini. Bisa dibilang sudah mendominasi tontonan masyarakat Indonesia. Anehnya, maraknya tayangan minim mutu menentukan rating sebuah program televisi. Realitanya kini, masyarakat Indonesia berperilaku konsumtif karena pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin tahu. Pihak televisi juga belum mementingkan kecerdasan masyarakat Indonesia. Asal laku, mutu nggak mutu, tayang terus.</p>
<p><span id="more-68"></span></p>
<p>Masyarakat tidak menyadari tayangan bermasalah itu telah mematikan akal budi. Belum memahami bahwa tidak semua tayangan yang mendidik, masih ada tayangan yang melecehkan akal sehat dan meruntuhkan nilai. Televisi telah menjadi Tuhan yang menghancurkan fungsi keluarga yang berperan utama dalam mendidik anak dan dalam mengenal dunia dari usia dini. Begitu Abel Tasman, pengamat televisi Indonesia berpendapat.</p>
<p>Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Sasa Djuarsa Sendjaja, suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik, social, dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non verbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual, penganiayaan terhadap anak serta tidak sesuai dengan norma kesopanan dan kesusilaan.</p>
<p>Alizar, salah seorang peserta diskusi mempertanyakan sikap KPI dalam menindak permasalahan minimnya pendidikan dalam program televisi. Begitu juga Ilham yang juga menanyakan bentuk pengawasan KPI. Bapak Sumartono, selaku Wakil Ketua KPI Daerah Sumbar menjelaskan, KPI hanya berhak untuk mengawasi lembaga penyiaran dan mengawasi isi siaran. Jika sudah tidak sesuai, maka KPI akan menegur lembaga penyiaran tersebut. Untuk tindak lanjutnya dilakukan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi.</p>
<p>Pacar-pacar Indonesia, remaja Indonesia, tak ingin lagi televisi menghancurkan bangsa, tak ingin menyita waktu belajarnya, tak ingin waktu bersama keluarganya terbuang sia-sia. Kini mereka punya pendapat dan menawarkan solusi. Saatnya remaja-remaja Indonesia buka mulut.</p>
<p>Ade, mahasiswa UNP ini tak setuju jika televisi membodohi penontonnya. Buktinya tak sedikit remaja yang kreatif dan intelek. Pendapat ini disetujui Lily Devani dari SMA Pembangunan Padang. Menurutnya, masih ada program-program yang bermanfaat dan bernilai pendidikan. Tapi, ia tak membantah bahwa masih ada teman-teman yang terlalu lengah dan terlalu asyik menonton televisi. Akibatnya, mereka kurang peduli dengan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Minim waktu untuk belajar, membaca, bergaul, dan berdiskusi.</p>
<p>Maghriza Novita Syahti dari Psikologi UNP menawarkan solusi untuk masalah ini. Kita harus menyadari bahwa keluarga adalah agen sosialisasi utama, jangan sampai televisi menggantikan posisi itu. Pemerintah juga harus lebih tegas dengan mengatur jadwal siaran televisi. Saatnya setiap program televisi diberi pelabelan sehingga menghindari penyimpangan perilaku remaja. Pihak penyiaran pun harus mengkondisikan jadwal tayangnya untuk anak-anak dan remaja untuk menonton tayangan yang bermutu dan mendidik.</p>
<p>Nilna R. Isna dari Kesehatan Masyarakat Unand gemas dengan realita televisi sekarang. Ia berharap orangtua menyingkirkan televisi dari ruang makan atau ruang keluarga. Kedua tempat sentral itu menyeret anggota keluarga untuk menonton televisi pada waktu yang harusnya disediakan untuk keluarga “Jika perlu televisi ditaruh saja di gudang atau di kamar orang tua, jadi kami menjadi malas untuk menonton televisi,” candanya.</p>
<div id="attachment_129" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn80043.jpg"><img class="size-medium wp-image-129" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn80043.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Mutia Ulfa namanya. Dia terpilih sebagai Pacar Indonesia dengan ungkapan terbaik. Ia menginginkan Indonesia yang baik-baik saja. Ia ingin tetap menyintai Indonesia apa adanya. (Foto Yulisa Farma)" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Mutia Ulfa namanya. Dia terpilih sebagai Pacar Indonesia dengan ungkapan terbaik. Ia menginginkan Indonesia yang baik-baik saja. Ia ingin tetap menyintai Indonesia apa adanya. (Foto Yulisa Farma)</p></div>
<p>Sebagai remaja yang selalu ada untuk Indonesia, pacar-pacar Indonesia ini berpesan. Mereka berharap, teman-teman Indonesia mampu memilih tayangan yang berkualitas. Stop sinetron yang membuat penonton cengeng, berburuk sangka kepada orang lain, berbuat anarkis, atau stop menonton tindakan rekonstruksi ulang sebuah peristiwa kriminal yang secara tidak langsung mengajarkan tindakan criminal. Pacar Indonesia tidak ingin teman-teman merusak cinta teman-teman kepada Indonesia. Saatnya kita memperhatikan Indonesia yang menginginkan Indonesia sempurna dan pulih dari setiap kekurangannya.</p>
<p>Mutia Ulfah, mahasiswa IAIN dalam pesannya menginginkan</p>
<p>Indonesia melihat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, membaca yang baik-baik dan berbuat yang baik-baik. Jika tidak, ia masih pacar Indonesia yang mencintai Indonesia apa adanya. Jangan ada yang mencela Indonesia lagi, jangan sampai ada yang berbuat anarkis, tetapi mari kita tutupi setiap kekurangan Indonesia dengan perubahan sedikit demi sedikitSemua bertepuk untuk pacar Indonesia. Acara ditutup diiringi lagu Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik oleh pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi. (Maghriza Novita Syahti/ P&#8217;Mails)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=68&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/08/02/ketika-tontonan-di-televisi-miskin-nilai-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn8009.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Menunggu hadiah buku. Mereka para peserta aktif, sebagai &#34;Pacar Indonesia&#34;, merasa gembira karena dapat hadiah. Kak Eka, lagi ngitung bukunya di belakang. (Foto Yulisa Farma)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/08/dscn80043.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Mutia Ulfa namanya. Dia terpilih sebagai Pacar Indonesia dengan ungkapan terbaik. Ia menginginkan Indonesia yang baik-baik saja. Ia ingin tetap menyintai Indonesia apa adanya. (Foto Yulisa Farma)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lirik Pacar Indonesia</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/29/lirik-pacar-indonesia/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/29/lirik-pacar-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 07:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[PACAR INDONESIA Lagu : Afid/ Mamad/ Andi (Musik Untuk Indonesia) Lirik : Yusrizal KW Kekasih kalau kau tanya berapa dalam cintaku padamu Aku kan jawab Cintaku lebih dalam pada Indonesia Dengan Indonesia kucintai kamu Kekasih kalau kau tanya Seberapa kasih sayangku padamu Aku kan jawab kasihku cinta suci untuk Indonesia Dengan Indonesia kupeluk kamu Pacarku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=65&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PACAR INDONESIA<br />
Lagu : Afid/ Mamad/ Andi (Musik Untuk Indonesia)<br />
Lirik : Yusrizal KW</strong></p>
<blockquote><p>Kekasih kalau kau tanya<br />
berapa dalam cintaku padamu<br />
Aku kan jawab<br />
Cintaku lebih dalam pada Indonesia<br />
Dengan Indonesia kucintai kamu</p>
<p>Kekasih kalau kau tanya<br />
Seberapa kasih sayangku padamu<br />
Aku kan jawab<br />
kasihku cinta suci untuk Indonesia<br />
Dengan Indonesia kupeluk kamu</p>
<p>Pacarku Indonesia<br />
Indonesia cinta kita<br />
Pacarku Indonesia<br />
Kita saling cinta<br />
Pada Indonesia</p>
<p>Kekasih kalau kau tanya<br />
Apa rasa rinduku padamu<br />
Aku kan jawab<br />
Rinduku Indonesia tersenyum untuk kita<br />
Dengan senyum Indonesia kubahagiakan kamu</p></blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=65&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/29/lirik-pacar-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMUSIK UNTUK INDONESIA: MEMBERI WARNA KRITIS PADA LAGU</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/pemusik-untuk-indonesia-memberi-warna-kritis-pada-lagu/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/pemusik-untuk-indonesia-memberi-warna-kritis-pada-lagu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 11:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Kelompok musik ini cuma bertiga orang saja. M Havizd, Muhamad Ridwan (Mamad) dan Andika. Mereka, ketika acara diskusi yang digelar Komunitas UntuIndonesia di arena Minangkabau Book Fair, di pelataran Parkir Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang, menarik perhatian banyak orang. Mereka menggunakan gitar, harmonika dan biola. “Melihat dan mendengarkan cara mereka memainkan musik, asyik banget,” kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=59&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_60" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/musiki-untuk-indonesia.jpg"><img class="size-medium wp-image-60" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/musiki-untuk-indonesia.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Kelompok Musik UNTUK INDONESIA (Havid, Andika, Mamad) akan selalu hadir setiap diskusi/kegiatan Komunitas Untuk Indonesia. Untuk Indonesia aku bernyanyi! (Foto Faiz)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kelompok Musik UNTUK INDONESIA (Havid, Andika, Mamad) akan selalu hadir setiap diskusi/kegiatan Komunitas Untuk Indonesia. Untuk Indonesia aku bernyanyi! (Foto Faiz)</p></div>
<p>Kelompok musik ini cuma bertiga orang saja. M Havizd, Muhamad Ridwan (Mamad) dan Andika. Mereka, ketika acara diskusi yang digelar Komunitas UntuIndonesia di arena Minangkabau Book Fair, di pelataran Parkir Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang, menarik perhatian banyak orang. Mereka menggunakan gitar, harmonika dan biola. “Melihat dan mendengarkan cara mereka memainkan musik, asyik banget,” kata Fariza, seorang peserta. Kelompok mereka, ketika main dalam kaitan program Komunitas Untuk Indonesia, bernama Kelompok Musik Untuk Indonesia. Sebab, lepas dari program tersebut, masing-masing punya kegiatan musik masing-masing. Seperti Mamad misalnya, melatih musik di salah satu sekolah musik di kota Padang. Havizd juga tergabung di kelompok musik lain, sebagaimana juga Andika. Musik Untuk Indonesia, digagas memang untuk memadukan gagasan cinta</p>
<p><span id="more-59"></span></p>
<p>Indonesia melalui kegiatan diskusi. Di sini, kelompok Musik Untuk Indonesia akan menjadi penyela atau musik jeda diskusi atau debat yang digelar oleh Komunitas Untuk Indonesia. Lagu-lagunya memang yang memiliki kekuatan atau kritik sosial. Dan saat ini, Musik Untuk Indonesia, juga tengah menyiapkan lagu ciptaan sendiri, yang nantinya akan disenandungkan di hadapan para remaja yang menjadi bagian acara Komunitas Untuk Indonesia. “Kita punya komitmen. Dengan adanya ide untuk berpikir tentang Indonesia secara kritis dan membangun, musik bisa memberi warna cara penyampaian,” kata Mamad. Tentu, memberi warna kritis dengan lagu Jika ingin menyaksikan kelompok musik ini bermain, caranya mudah. Dimana Komunitas Untuk Indonesia menggelar diskusi atau debat, di sana Musik Untuk Indonesia ada. (Nilna)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=59&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/pemusik-untuk-indonesia-memberi-warna-kritis-pada-lagu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/musiki-untuk-indonesia.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kelompok Musik UNTUK INDONESIA (Havid, Andika, Mamad) akan selalu hadir setiap diskusi/kegiatan Komunitas Untuk Indonesia. Untuk Indonesia aku bernyanyi! (Foto Faiz)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU INGIN PUNYA BAPAK YANG TIDAK KORUPSI</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/aku-ingin-punya-bapak-yang-tidak-korupsi/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/aku-ingin-punya-bapak-yang-tidak-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 10:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu rangkaian acara Minangkabau Book Fair 2008 kemarin ada diskusi Komunitas Untuk Indonesia. Nama acaranya Parlementaria Remaja On Demokrasi. Topiknya Nasionalisme. Mottonya Untuk Indonesia Aku Ada. Diskusinya keren terutama untuk mempertanyakan rasa nasionalisme remaja saat ini. Kan remaja sekarang banyak yang gak peduli sama negaranya. Hobinya cuma mejeng-mejeng di mall. Nggak peduli kalo negaranya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=40&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_52" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/penyerahan-hadiah-u-nilna1.jpg"><img class="size-medium wp-image-52" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/penyerahan-hadiah-u-nilna1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Ketua Komunitas Untuk Indonesia, Yusrizal KW, disaksikan Isra Iskandar (Pakar Penilai) , menyerahkan hadiah buku kepada Nila R Isna, sebagai penanggap terbaik dalam diskusi. (Foto Faiz)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ketua Komunitas Untuk Indonesia, Yusrizal KW (Om KW), disaksikan Isral Iskandar (Pakar Penilai) , menyerahkan hadiah buku kepada Nila R Isna, sebagai penanggap terbaik dalam diskusi. (Foto Faiz)</p></div>
<p style="text-align:left;">Salah satu rangkaian acara Minangkabau Book Fair 2008 kemarin ada diskusi Komunitas Untuk Indonesia. Nama acaranya Parlementaria Remaja On Demokrasi. Topiknya Nasionalisme. Mottonya Untuk Indonesia Aku Ada.</p>
<p style="text-align:left;">Diskusinya keren terutama untuk mempertanyakan rasa nasionalisme remaja saat ini. Kan remaja sekarang banyak yang gak peduli sama negaranya. Hobinya cuma mejeng-mejeng di mall. Nggak peduli kalo negaranya lagi krisis. Iya toh?</p>
<p style="text-align:left;">Peserta yang hadir puluhan orang. Lumayan ramai kata Om KW (Yusrizal KW) yang menjadi penggagas Komunitas Untuk Indonesia. Dalam diskusi ini ada penanggap ahlinya juga yang diberi gelar Kak Pakar yaitu Kak Eka, Kak Israr, dan Kak Taufik. Ketiganya itu merupakan dosen sekaligus pakarnya demokrasi.</p>
<p style="text-align:left;">Materi diskusi rada-rada hot. Jadinya peserta ikutan panas. Apalagi para peserta berasal dari kalangan berbeda. Emang sih semuanya remaja, tapi ada juga remaja yang masih pelajar, remaja yang udah jadi mahasiswa, remaja yang udah kerja, bahkan remaja yang udah jadi guru atau dosen, dan “katanya” juga ada remaja jalanan. Lho? (Hihihi&#8230;, ukuran remaja apa ya&#8230;.)</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-40"></span>Pokoknya seru deh. Ada yang debat, ada yang cuma nanya, ada yang sekedar menyampaikan aspirasi, ada yang nuduh-nuduh pemerintah, ada yang ngomelin generasi tua, ada yang cuma meluruskan beda antara nasionalis dengan nasionalisme biar ga asal ngomong kali ye…, bahkan ada yang curhat, eh juga ada yang berpuisi. Haha….</p>
<p style="text-align:left;">Diskusi ini diramaikan kelompok musik yang diberi nama UNTUK INDONESIA yang membuat suasana menjadi renyah.</p>
<p style="text-align:left;">Oh iya, panitia menyediakan hadiah buku untuk penanggap dan penanya terbaik. Tapi ujung-ujungnya semua yang “angkat suara” dapat buku, ada 15 orang yang tunjuk tangan baik untuk yang bertanya ataupun menanggapi, ke-15nya itu dapat buku dari panitia.</p>
<p style="text-align:left;">Tapi tetap dipilih penanggap terbaik. Who is it? Ternyata oh ternyata saudara-saudara, saya yang terpilih jadi penanggap terbaik. Hohoho… hahaha….</p>
<p style="text-align:left;">Kaget sih pas disebut namanya sebagai penanggap terbaik. Toh, yang saya ucapkan waktu itu kalimat alakadarnya. Lagian saya bikin kata-kata itu ya waktu saya berdiri sambil megang mick itu. Nggak ada persiapan sama sekali. Waktu nunjuk tangan saya nggak mikir mau baca puisi. Cuma mau bilang agar negara kita nggak korupsi lagi. Eh, pas megang mick, entah dapat ilham dari mana, saya malah baca puisi.</p>
<p style="text-align:left;">Ini kata saya:<br />
Aku mau punya bapak yang tidak korupsi<br />
Aku mau punya ibu yang tidak suka menonton sinetron televisi<br />
Aku mau punya teman yang gemar membaca<br />
Aku mau kita semua cinta Indonesia</p>
<p style="text-align:left;">Gimana?</p>
<p style="text-align:left;">Padang 2008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=40&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/aku-ingin-punya-bapak-yang-tidak-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/penyerahan-hadiah-u-nilna1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ketua Komunitas Untuk Indonesia, Yusrizal KW, disaksikan Isra Iskandar (Pakar Penilai) , menyerahkan hadiah buku kepada Nila R Isna, sebagai penanggap terbaik dalam diskusi. (Foto Faiz)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETIKA NASIONALISME DIPERDEBATKAN</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/diskusi-nasionalisme-untuk-indonesia-aku-ada/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/diskusi-nasionalisme-untuk-indonesia-aku-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 10:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala Tetap di puja-puja bangsa Di sana tempat lahir beta Dibuai dibesarkan bunda Tempat berlindung di hari tua Tempat akhir menutup mata Lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki mengalun di Gedung Bagindo Aziz Chan yang saat itu berlangsung Minangkabau Book Fair 2008, pada Minggu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=22&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_54" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/p60898541.jpg"><img class="size-medium wp-image-54" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/p60898541.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Untuk Indonesia Aku Ada. Foto bareng, kompak, saatnya ikut menginspirasi perubahan untuk Indonesia yang lebih baik! (Foto Faiz)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Untuk Indonesia Aku Ada. Foto bareng, kompak, saatnya ikut menginspirasi perubahan untuk Indonesia yang lebih baik! (Foto Faiz)</p></div>
<div class="snap_preview" style="text-align:left;">
<p>Indonesia tanah air beta<br />
Pusaka abadi nan jaya<br />
Indonesia sejak dulu kala<br />
Tetap di puja-puja bangsa</p>
<p>Di sana tempat lahir beta<br />
Dibuai dibesarkan bunda<br />
Tempat berlindung di hari tua<br />
Tempat akhir menutup mata</p>
<p>Lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki mengalun di Gedung Bagindo Aziz Chan yang saat itu berlangsung Minangkabau Book Fair 2008, pada Minggu, 8 Juni lalu. Lagu yang dinyanyikan oleh segenap remaja ini merupakan lagu pembuka diskusi yang digelar Komunitas Untuk Indonesia bertopik: Nasionaluisme. Komunitas dengan slogan ‘Untuk Indonesia Aku Ada’ ini menggagas kegiatan ini untuk kaum remaja agar terbiasa berdiskusi dan berpikir kritis serta kreatif.</p>
<p><span id="more-22"></span> Diskusi ini ditujukan untuk menggelitik rasa nasionalisme remaja Indonesia dengan beragam pertanyaan : Bagaimanakah masa depan Indonesia di pikiran remaja? Apa benar remaja sekarang tidak nasionalis? Apakah pernah remaja berpikir tentang nasionalisme?</p>
<div id="attachment_63" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/berempat.jpg"><img class="size-medium wp-image-63" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/berempat.jpg?w=300&#038;h=282" alt="M Taufik, Israr Iskandar, Eka Vidya Putra dan Yusrizal KW. (Foto Faiz)" width="300" height="282" /></a><p class="wp-caption-text">Penggagas dan pendiri Komunitas Untuk Indonesia. dari kiri ke kanan: M Taufik, Israr Iskandar, Eka Vidya Putra dan Yusrizal KW. (Foto Faiz)</p></div>
<p>Diskusi ini dilaksanakan oleh Komunitas Untuk Indonesia, didukung Revolt Institute dan Yayasan Citra Budaya Indonesia. Peserta terdiri dari para remaja, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun umum hadir untuk dipertanyakan rasa nasionalismenya serta ditantang untuk ‘kembali ambil andil’ dalam penentuan masa depan Indonesia lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Penanggap ahli dihadirkan dari tiga universitas di kota Padang yaitu Israr Iskandar dari Unand, Eka Vidya Putra dari UNP dan M. Taufik dari IAIN Imam Bonjol Padang.</p>
<p>Para penanggap ahli mengungkapkan kurangnya rasa nasionalisme remaja saat ini. “Ketika ada berita korupsi, kita tenang-tenang saja. Itu artinya kita tidak cinta Indonesia,” tutur Kak Eka. Ia menambahkan, “Nasionalisme adalah rasa. Rasa yang mesti diwujudkan.” Wujud dari rasa itu kemudian dikembangkan menjadi cinta hingga timbul pertanyaan : Bagaimana mewujudkan rasa cinta pada Indonesia?</p>
<p>Namun, sebelum pertanyaan itu dijawab, Kak Eka memancing peserta forum diskusi dengan satu pernyataan: Remaja saat ini tidak punya nasionalisme.</p>
<p>Maghriza Novita Syahti setuju atas pernyataan ini. “Remaja tidak punya nasionalisme. Bisa kita lihat saat upacara bendera dimana banyak dari remaja yang tidak serius dan lebih banyak main-main dan bercanda saat upacara,” ungkap mahasiswa Psikologi UNP ini. Lily Devani dari SMA Pembangunan Padang menimpali, “Semestinya remaja tidak boleh bersikap seperti itu. Masa’ upacara yang cuma lima belas menit itu saja nggak mau.” Lily yang merupakan anggota pramuka ini merasa malu akan kondisi remaja yang diutarakan oleh Maghriza. Pasalnya, bagi Lily, upacara bentuk penghayatan lain dari rasa nasionalisme itu. Yang secara menukik sesungguhnya dikatakan Opi, upacara cara lain mengukur rasa nasionalis ramaja atau pelajar.<br />
Sementara itu, Yogi Saputra mengatakan tidak mau remaja dianggap tidak nasionalis.</p>
<p>“Semuanya itu berpaling pada diri sendiri. Saya tidak setuju remaja yang disalahkan dan dianggap tidak nasionalis. Apa bapak-bapak yang duduk di DPR itu juga punya rasa nasionalisme?” tanyanya keras, membuat peserta lain menerawang pada bapak-bapak yang duduk di DPR itu.</p>
<p>Mendukung pendapat sebelumnya, Alfian setuju atas pernyataan remaja sekarang tidak nasionalis. Golongan tua dijadikan kambing hitam dalam kalimatnya. “Nasionalisme itu warisan. Warisan nasionalisme itu yang tidak diberikan oleh generasi di atas kita,” ujarnya menggebu. “Bagaimana pelajar bisa tenang upacara jika guru juga tidak tenang (mengobrol,-red) saat upacara,” tambahnya lagi. Ihiks. Nyerempet ke guru nih. Karena, banyak bukti di sekolah, kala upacara misalnya, ada beberapa guru yang setengah hati mengikuti upacara. Bahkan diperhatikan murid, ada yang ngobrol bisik-bisik.</p>
<p>Menanggapi pernyataan peserta, Kak Taufik angkat bicara soal wujud nasionalisme. Menurut dosen IAIN Imam Bonjol Padang ini, Nasionalisme terbagi pada dua macam. Pertama nasionalisme secara simbolik dan nasionalisme secara hakikat. Melaksanakan upacara dan memakai barang-barang dalam negeri adalah wujud nasionalisme secara simbolik. Sedangkan nasionalisme secara hakikat adalah bagaimana menghayati nasionalisme itu sendiri.</p>
<p>“Sebagian dari identitas kebangsaan itu bahwa kita adalah Indonesia dan Indonesia adalah kita,” serunya.</p>
<p>Ujung dari nasionalisme adalah bagaimana mencintai, mempromosikan, dan memberi pengertian bahwa Indonesia itu ada. Cara berpikir remaja dihidupkan dengan nalar. Ada pemikiran bahwa remaja belum menempatkan Indonesia sebagaimana mestinya. “Kita adalah bangsa Indonesia yang belum Indonesia. Maka nasionalisme digugah untuk mengindonesiakan Indonesia.”</p>
<p>Life style atau gaya hidup menjadi ‘tersangka’. Kenyataannya banyak remaja yang lebih cinta pada gaya hidup daripada Indonesia. Remaja sekarang suka glamour, kepingin nyeleb, mejeng di mall sehingga lebih hapal seluruh riwayat hidup artis, seperti misalnya Bunga Citra Lestari daripada Bung Karno atau Bung Hatta. Remaja sekarang diam-diam ingin dipeluk artis idola sehingga yang dipikirannya hanya sang artis akibatnya remaja lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai pelajar. Bahkan remaja saat ini tak kenal siapa itu M.Natsir dan H. Agus Salim. Saat ditanyakan mereka menjawab, “Tidak tahu” atau “Kayaknya pernah dengar namanya deh.” Sementara itu, ketika disebut nama Afgan dan Cinta Laura Khiel, semuanya mendongak dan menjerit histeris sebagai bukti cinta pada keduanya.</p>
<p>Sistem kapitalis telah meninabobokkan nurani bangsa. Bahkan negara Amerika sudah tidak punya rasa nasionalisme lagi. Nasionalisme Amerika sudah dirubah menjadi globalisme. Globalisme itu yang menghancurkan nasionalisme. Remaja Indonesia lebih suka memakan Fried Chicken daripada Rendang. Remaja Indonesia ahli membuat hamburger daripada pempek palembang. Remaja Indonesia lebih senang memakai model baju seperti Paris Hilton daripada mengikuti style kebaya seperti ibu Fatmawati.</p>
<p>Fenomena ini diakui Rifkia Khairati. Gadis berjilbab ini bersedih dengan remaja yang mengenal dan cuek dengan apa dan bagaimana Indonesia di awal, akhir, dan sekarang. Di lain pendapat, Iwan Ahmad mengungkit sumber daya alam Indonesia yang dibabat oleh negara lain menggunakan tangan bangsa kita, hal itu juga karena lengahnya remaja Indonesia.</p>
<p>Esha Tegar Putra yang berkuliah di Sastra Indonesia Unand mencontohkan nasionalisme remaja Indonesia pada grup band SLANK. “SLANK telah membantu KPK dalam pemberantasan korupsi dengan lagu kritisnya. Itu wujud nasionalisme Slank,” ucapnya. Lebih lanjut, Esha menegaskan kepada remaja untuk menimbulkan rasa ‘Saya Cinta Indonesia’ dan mewujudkannya.</p>
<p>Pemusik Untuk Indonesia pun ikut angkat suara. “Kita orang-orang minang sekali-kali mereferensi nasionalisme pada budaya,” katanya. Menurut penyuka lagu Iwan Fals ini, nasionalisme bisa diwujudkan dengan mencintai budaya.</p>
<p>“Nasionalisme itu adalah cinta kebenaran,” tukas Syamsul Bahri. Pria yang menjadi mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol Padang ini meletakkan kebenaran sebagai patokan.</p>
<p>“Sebagai remaja apakah sudah benar sikap kita? Apa sudah serius belajar (benar dalam belajar,-red) ? Apakah tidak cabut dalam upacara (benar dalam upacara,-red) ? ” tanyanya memberikan gambaran.</p>
<p>Tamu jauh, Suhairi yang datang dari Jambi, mengatakan nasionalisme adalah cara pandang Indonesia kepada Pancasila dan UUD 1945. Ahmad Mukhlisin yang juga berasal dari Jambi menambahkan bahwa nasionalisme adalah bagaimana cara mengaplikasikan cara pandang itu.</p>
<p>“Apakah kita sudah merdeka?” tanya Kak Taufik. Pertanyaan itu mengejutkan nalar. Tersadar akan kealpaan, remaja dipaksa kembali mengingat-ingat persoalan yang sudah dan tengah dihadapi Indonesia. Multikrisis termasuk merajalelanya korupsi, ilegal logging, kemiskinan serta harga BBM yang tak pernah turun. Belum lagi masalah antarsuku, antarkampung, bahkan antaragama.</p>
<p>Kata Kak Taufik, remaja mesti memilah-milah mana yang harus dibanggakan dan mana yang tidak dibanggakan. “Secara ideologis atau teori, kita belum merdeka,” tegas kak Taufik.<br />
Diskusi yang berlangsung selama dua jam itu berakhir dengan keyakinan, kita ada untuk Indonesia. Karenanyam, sedini mungkjin berbuat untuk Indonesia dari berbagai sisi kebaikan. (Nilna Rahmi Isna)</p></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=22&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/diskusi-nasionalisme-untuk-indonesia-aku-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/p60898541.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Untuk Indonesia Aku Ada. Foto bareng, kompak, saatnya ikut menginspirasi perubahan untuk Indonesia yang lebih baik! (Foto Faiz)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/berempat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">M Taufik, Israr Iskandar, Eka Vidya Putra dan Yusrizal KW. (Foto Faiz)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUARA REMAJA DIDENGAR UNTUK INDONESIA</title>
		<link>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/diskusi-komunitas-indonesia/</link>
		<comments>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/diskusi-komunitas-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 10:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuindonesia.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[“Aku ingin punya Bapak yang tidak korupsi, Ibu yang tidak suka menonton sinetron, dan teman-teman yang suka membaca…” Lalu orang bertepuk tangan, berdecak kagum setelah mendengar seorang perempuan remaja, Nilna R Isna namanya, mengucapkan kata-kata itu. Kita yang mendengarnya barangkali kagum. Atau berbisik ke hati sendiri: mungkinkah ramaja bisa berkata begitu? Berbahayakah? Di Bagindo Aziz [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=28&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">“<em>Aku ingin punya Bapak yang tidak korupsi, Ibu yang tidak suka menonton sinetron, dan teman-teman yang suka membaca…”</em></p>
<div id="attachment_57" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/p60898582.jpg"><img class="size-medium wp-image-57" src="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/p60898582.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Amel, Icha dan Opie, ikutan diskusi untuk Komunitas Untuk Indonesia. Kalau didengar suara kritis kita, rasanya sebagai remaja bahagia banget. (Foto Faiz)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Amel, Icha dan Opie, ikutan diskusi untuk Komunitas Untuk Indonesia. Kalau didengar suara kritis kita, rasanya sebagai remaja bahagia banget. (Foto Faiz)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Lalu orang bertepuk tangan, berdecak kagum setelah mendengar seorang perempuan remaja, Nilna R Isna namanya,  mengucapkan kata-kata itu. Kita yang mendengarnya barangkali kagum. Atau berbisik ke hati sendiri: mungkinkah ramaja bisa berkata begitu? Berbahayakah?</p>
<p style="text-align:justify;">Di Bagindo Aziz Chan, 8 Juni 2008, Komunits Untuk Indonesia mengadakan sebuah diskusi tentang Nasionalisme.Untuk Indonesia Aku ada, demikian motto komunitas ini. Para penanggap yang disebut Kak Pakar dihadirkan: Eka Vidya Putra, Isral, dan M. Taufik. Mereka seakan hendak “menggugat” rendahnya nasionalisme kaum remaja, kaum muda. Waktu yang tepat memang, karena diskusi itu sendiri ditujukan untuk, dan dihadiri oleh banyak orang muda. Orang muda/remaja yang sepertinya susah dapat tempat untuk bicara. Tapi di sini tidak. Mereka didengarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">***<span id="more-28"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tentang remaja, Hasanuddin WS— dalam sebuah tulisan di Koran ini 7 oktober 2007 lalu—pernah mencemaskan hal yang sama. Sang Profesor  mencemaskan generasi muda kita seperti yang ada dalam gambaran film Eifill I’m in Love.  Remaja dengan kisah cinta yang cengeng, hidup dalam gemerlapan dan kemelimpahan harta-benda, dan segala kebutuhan materi yang tercukupi dengan mudah.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pernah menonton film itu. Film itu memang berkisah tentang cinta dua remaja Indonesia di gemerlap kembang api tahun baru di jantung kota Paris, di bawah keangkuhan eifell mendongak tinggi ke langit –langit tempat di mana sebuah revolusi pernah meledak beberapa abad lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kita akan sulit lupa, ada yang lebih berbahaya dari sekedar perubahan cara mandi dari yang dulunya hanya menggunakan sabun tombak dan kini digantikan sabun dan sampo dengan jenisnya yang beragam macam seperti yang disesalkan sang Guru Besar. Ada yang lebih mencemaskan dari sekedar kisah cinta-cintaan dua remaja dalam eifeel i’m in love, atau kesenangan mengoleksi boneka berbie dan memendam rasa cengeng yang kian mengancam diri si remaja.</p>
<p style="text-align:justify;">Rentetan panjang kasus-demi-kasus korupsi tidak datang dari kaum muda. Plesiran para pejabat yang atas nama kunjungan ke luar negeri, naik haji dan umrah berulang-ulang kali, ikut training-trainingan dengan menghabiskan biaya jutaan untuk kemaslahatan diri sendiri, belanja para ibu anggota dewan, permintaan lektop dan tunjangan mobil dinas yang memberi dampak negetif ke kantong Negara. Budaya “ugal-ugalan” yang cenderung tak banyak disentuh ini malah yang lebih mengkhawatirkan kita ketimbang mempersoalkan sampo, film-film cinta-cintaan, dua remaja yang bergandengan tangan dengan penuh cinta, berbie-berbie-an, dsb.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah perseteruan tua-muda seakan muncul kembali. Juga tentang nasionalis atau tidaknya seseorang. Dan kita menyaksikan perseteruan itu di Bagindo Aziz Chan. Remaja yang disesalkan tak nasionalis itu mulai berpikir tentang nasionalisme. Kadang mereka menggugat balik. Dan… membuat kita tercengang.</p>
<p style="text-align:justify;">Nasionalisme, dari diskusi tersebut, menurut mereka tidak mesti selalu lahir dari ujung bambu runcing yang keramat itu, tidak dari “keinginan-untuk-bersama” belaka. Mereka tidak lagi berada di zaman revolusi yang penuh pertempuran, berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, dan dengan medan tempur yang jelas. Mereka adalah generasi yang kini berjuang melawan musuh yang “tak ada”, musuh yang entah.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah kehidupan remaja yang seperti “antah-barantah”, generasi ambang yang diombang-ambing, mereka toh bisa berbicara tentang korupsi, menggugat sinetron-sinetron yang memualkan, mengajak generasinya sendiri untuk rajin membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah tudingan rendahnya Nasionalisme kaum muda itulah, Komunitas untuk Indonesia membuka ruang untuk kaum muda membicarakan Indonesia—sebuah bangsa yang berubah setiap waktu. Komunitas untuk Indonesia sendiri merupakan wadah bagi kaum muda untuk mengawal dan mendiskusikan perubahan itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku ingin nyanyikan lagu//bagi kaum-kaum yang terbuang/ kehilangan semangat juang/ terlena dalam mimpi panjang/ di tengah hidup yang bimbang…/</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em></em>Sebuah lagu miris berirama keroncong turut serta mengakhiri diskusi tersebut. Sebuah lagu yang memang pantas bagi kaum muda, bagi remaja. “Remaja, kaum muda, harus diperhitungkan,” setidaknya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Fatris M. Faiz </strong><em>sedang akan menyelesaikan skripsi dan KKN di Fakultas Sastra, Universitas Andalas Padang.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kuindonesia.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kuindonesia.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuindonesia.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuindonesia.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuindonesia.wordpress.com&amp;blog=4345913&amp;post=28&amp;subd=kuindonesia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuindonesia.wordpress.com/2008/07/28/diskusi-komunitas-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b4a74a584de7c6f61750acb4941e9a7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kuindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kuindonesia.files.wordpress.com/2008/07/p60898582.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Amel, Icha dan Opie, ikutan diskusi untuk Komunitas Untuk Indonesia. Kalau didengar suara kritis kita, rasanya sebagai remaja bahagia banget. (Foto Faiz)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
